Kemasan rokok sudah lama memuat peringatan kesehatan. Gambar penyakit terlihat ketika bungkus dibeli, dibuka, dan diletakkan di meja. Bahaya merokok diajarkan di sekolah, disampaikan tenaga kesehatan, dan diulang dalam kampanye publik. Sulit mengatakan bahwa masyarakat sama sekali tidak pernah mendengar risikonya.
Namun, rokok tetap bertahan.
Global Adult Tobacco Survey Indonesia 2021 memperkirakan 34,5 persen penduduk dewasa menggunakan tembakau, setara dengan sekitar 70,2 juta orang. Di antara laki-laki dewasa, prevalensinya mencapai 65,5 persen. Survei Kesehatan Indonesia 2023 juga menunjukkan penggunaan tembakau masih sangat tinggi, terutama pada laki-laki.
Jika informasi tentang bahaya telah tersebar tetapi konsumsi tetap besar, persoalannya jelas bukan sekadar kurang pengetahuan.
Orang tidak merokok di ruang hampa. Keputusan untuk mulai, melanjutkan, atau berhenti dibentuk oleh harga, ketersediaan, pergaulan, iklan, stres, kebiasaan keluarga, dan penerimaan lingkungan. Nikotin menciptakan ketergantungan, tetapi lingkungan menentukan seberapa mudah seseorang pertama kali mencoba dan seberapa banyak rintangan yang dihadapi ketika ingin berhenti.
Karena itu, menyampaikan bahaya tanpa mengubah lingkungan serupa dengan memperingatkan orang agar tidak masuk ke sebuah pintu yang terus dibiarkan terbuka, diterangi, dipromosikan, dan ditempatkan di setiap sudut jalan.
Warung menunjukkan cara lingkungan tersebut bekerja. Rokok mudah terlihat, mudah dibeli, dan dapat dijual per batang. Penjualan batangan membuat harga masuk tampak sangat murah. Seseorang tidak harus memutuskan membeli sebungkus; ia hanya perlu mengeluarkan uang untuk satu batang. Bagi anak dan remaja, hambatan percobaan menjadi jauh lebih rendah. Bagi orang yang sedang berusaha mengurangi konsumsi, ketersediaan eceran juga membuat pembelian impulsif selalu mungkin.
Harga per batang menyembunyikan biaya yang terkumpul. Pengeluaran kecil terasa tidak sebesar pembelian sebungkus, meskipun dilakukan berulang kali. Struktur ini bukan hanya cara penjualan. Ia membentuk cara risiko dipersepsikan: rokok hadir sebagai barang harian yang terjangkau, bukan sebagai produk adiktif dengan konsekuensi jangka panjang.
Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024 membawa sejumlah ketentuan penting dalam pengamanan produk tembakau dan rokok elektronik. Di antaranya terdapat peningkatan batas usia pembelian menjadi 21 tahun, larangan penjualan rokok secara eceran per batang dengan pengecualian tertentu, pengaturan peringatan kesehatan, serta pembatasan iklan dan promosi. Arah kebijakannya mengakui bahwa perlindungan tidak cukup dilakukan melalui nasihat kepada individu. Cara produk dijual dan dipromosikan juga harus diatur.
Tantangannya terletak pada pelaksanaan. Larangan di atas kertas tidak otomatis mengubah transaksi di ribuan titik penjualan. Penjual perlu mengetahui aturan, mekanisme verifikasi usia harus realistis, pengawasan perlu dilakukan secara konsisten, dan pelanggaran harus mempunyai konsekuensi. Jika kepatuhan hanya diperiksa sesekali, lingkungan sehari-hari akan tetap menyampaikan pesan yang lebih kuat daripada peraturan: rokok tersedia bagi siapa saja yang dapat membayar.
Pesan tersebut diperkuat oleh iklan dan promosi. Industri tidak perlu mengatakan bahwa rokok menyehatkan. Cukup menghubungkannya dengan keberanian, kebebasan, kreativitas, petualangan, pertemanan, atau kedewasaan. Risiko kesehatan ditempatkan pada kemasan, sementara citra sosial dibangun di ruang yang jauh lebih luas.
Ketika promosi dibatasi di satu medium, pemasaran dapat bergeser ke bentuk lain: acara, pajangan, kerja sama merek, konten digital, atau komunikasi yang tidak langsung tampak sebagai iklan. Karena itu, pengendalian tidak dapat hanya mengejar satu format. Yang perlu diperiksa adalah keseluruhan upaya membuat produk tetap terlihat, menarik, dan wajar dalam kehidupan anak muda.
Rokok bertahan bukan hanya sebagai barang dagangan, tetapi juga sebagai tindakan sosial. Di sejumlah lingkungan, menawarkan rokok menjadi cara membuka percakapan. Istirahat merokok membentuk kelompok kecil di tempat kerja. Seorang remaja dapat melihat merokok sebagai tanda telah diterima oleh teman sebaya. Dalam pertemuan tertentu, orang yang tidak merokok justru harus menjelaskan pilihannya, sedangkan perokok tidak.
Norma semacam itu tidak dibangun oleh satu orang. Ia dipelajari melalui pengulangan. Anak melihat anggota keluarga merokok di rumah, orang dewasa merokok di warung, tokoh di sekitarnya merokok setelah makan, dan teman yang lebih tua menganggap rokok sebagai bagian biasa dari pergaulan. Peringatan kesehatan kemudian bersaing dengan ratusan contoh bahwa perilaku tersebut diterima.
Paparan asap rokok orang lain memperlihatkan siapa yang menanggung akibat dari norma itu. GATS 2021 mencatat paparan yang tinggi di berbagai ruang publik, termasuk restoran dan tempat kerja. Orang yang tidak merokok sering harus memilih antara menghirup asap, menjauh dari kelompok, atau meminta orang lain berhenti dan berisiko dianggap mengganggu suasana.
Kawasan tanpa rokok seharusnya membalik beban tersebut. Bukan orang yang menginginkan udara bersih yang harus memohon, melainkan ruang bersama yang sejak awal melindungi semua orang. Lebih dari sekadar memasang tanda, kebijakan ini membutuhkan batas area yang jelas, pengawasan, mekanisme pengaduan, dan dukungan pengelola tempat.
WHO mencatat sebagian besar kabupaten dan kota di Indonesia telah memiliki peraturan kawasan tanpa rokok, tetapi keberadaan peraturan belum selalu diikuti penegakan yang kuat. Kesenjangan antara aturan dan pengalaman sehari-hari penting karena norma berubah melalui apa yang benar-benar terjadi. Jika merokok tetap dibiarkan di tempat yang memiliki tanda larangan, masyarakat belajar bahwa pelanggaran tersebut dapat diterima.
Membicarakan lingkungan bukan berarti menghapus tanggung jawab pribadi. Perokok tetap membuat keputusan dan tindakannya dapat memengaruhi orang lain. Namun, tanggung jawab individu tidak boleh dipakai untuk membebaskan pemerintah, industri, penjual, pengelola ruang, dan institusi dari peran mereka.
Tidak masuk akal meminta seseorang melawan ketergantungan seorang diri ketika produk tersedia di setiap sudut, lingkungan sosial terus menawarkan, dan bantuan berhenti sulit dijangkau. Berhenti merokok bukan sekadar soal kemauan. Ketergantungan nikotin dapat membutuhkan dukungan perilaku, konseling, dan terapi yang sesuai. Layanan berhenti merokok perlu menjadi bagian yang mudah ditemukan dalam pelayanan kesehatan, bukan pengetahuan khusus yang baru diketahui setelah seseorang sakit.
Bahasa kampanye juga perlu berubah. Pesan yang mempermalukan perokok dapat membuat orang defensif dan menjauh dari pertolongan. Banyak perokok mulai ketika masih muda, hidup dalam lingkungan yang menormalisasi rokok, lalu menghadapi ketergantungan yang tidak mudah dihentikan. Menyebut mereka tidak disiplin atau tidak peduli kesehatan menyederhanakan proses tersebut.
Pendekatan kesehatan masyarakat tidak menanyakan mengapa seseorang gagal menjadi sempurna. Ia menanyakan mengapa jutaan orang terus diarahkan menuju risiko yang sama dan bagaimana lingkungan dapat dibuat lebih melindungi.
Cukai dan harga mempunyai peran penting karena memengaruhi keterjangkauan, terutama bagi anak muda. Akan tetapi, kebijakan harga perlu berjalan bersama larangan penjualan batangan dan pengawasan produk murah. Jika konsumen dapat beralih ke pilihan yang sangat murah atau membeli satuan, dampak kenaikan harga dapat melemah.
Penggunaan penerimaan negara juga penting untuk membangun kepercayaan. Sebagian sumber daya perlu mendukung layanan berhenti merokok, komunikasi kesehatan, pengawasan, perlindungan anak, dan alternatif penghidupan bagi kelompok yang terdampak perubahan kebijakan. Pengendalian tembakau bukan satu tindakan tunggal, melainkan rangkaian kebijakan yang harus saling menguatkan.
Hasilnya pun jangan hanya dinilai dari jumlah peraturan. Ukuran yang lebih bermakna adalah berkurangnya pembelian oleh anak, menurunnya penjualan batangan, meningkatnya kepatuhan kawasan tanpa rokok, lebih sedikit paparan asap, menurunnya keterjangkauan produk, dan bertambahnya orang yang memperoleh bantuan untuk berhenti.
Pengetahuan tetap penting. Masyarakat berhak memahami risiko kesehatan secara jujur. Tetapi informasi bekerja paling baik ketika lingkungan tidak terus-menerus mendorong perilaku sebaliknya.
Rokok bertahan bukan karena puluhan juta orang tidak pernah diberi tahu bahwa produk itu berbahaya. Ia bertahan karena ketergantungan bertemu dengan ketersediaan, pemasaran, harga, dan norma sosial yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
Karena itu, jawaban yang adil bukan menyalahkan individu yang terperangkap di dalam lingkungan tersebut. Tugas kebijakan adalah mengubah lingkungannya: membuat anak lebih sulit memulai, membuat ruang bersama benar-benar bebas asap, membatasi cara industri membentuk keinginan, dan membuat pertolongan lebih mudah dijangkau daripada rokok.
References
1. https://www.who.int/indonesia/news/detail/22-08-2024-ministry-of-health-and-who-release-global-adult-tobacco-survey-indonesia-report-2021
2. https://www.kemkes.go.id/id/survei-kesehatan-indonesia-ski-2023
3. https://peraturan.bpk.go.id/Details/294077/pp-no-28-tahun-2024
4. https://www.who.int/indonesia/news/detail/30-05-2025-world-no-tobacco-day-2025--who-hails-indonesia-s-bold-reforms--calls-for-decisive-action-on-standardized-packaging
5. https://www.who.int/indonesia/id/news/detail/19-01-2026-protecting-communities-from-second-hand-smoke
6. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/tobacco-and-nicotine