Setiap rilis ketenagakerjaan biasanya mempunyai satu bintang utama: tingkat pengangguran terbuka. Pada Agustus 2025, Badan Pusat Statistik mencatat tingkat pengangguran terbuka Indonesia sebesar 4,85 persen. Angka itu lebih rendah daripada Agustus 2024 dan melanjutkan pemulihan pasar kerja setelah pandemi. Jika dibaca sendirian, kesimpulannya mudah: semakin banyak orang memperoleh pekerjaan, maka keadaan semakin baik.
Namun sebuah angka ketenagakerjaan tidak boleh hanya diumumkan. Ia perlu diautopsi.
Pemeriksaan pertama dimulai dari definisi. Dalam statistik resmi, seseorang dapat digolongkan bekerja bila melakukan kegiatan ekonomi setidaknya satu jam dalam seminggu terakhir. Definisi ini bukan kekeliruan BPS; ia mengikuti standar statistik ketenagakerjaan internasional agar data dapat dibandingkan. Masalah muncul ketika kategori teknis tersebut diterjemahkan di ruang publik menjadi gambaran bahwa setiap orang yang tercatat bekerja telah mempunyai penghidupan memadai.
Satu jam bekerja, empat puluh jam bekerja, menjadi pegawai tetap, membantu usaha keluarga tanpa upah, atau mengambil pesanan sesekali dapat masuk ke sisi yang sama dalam pembagian paling sederhana: bekerja. Karena itu, penurunan pengangguran menjawab pertanyaan apakah seseorang mempunyai hubungan dengan kegiatan ekonomi. Ia belum menjawab apakah pendapatannya cukup, pekerjaannya stabil, keterampilannya berkembang, atau masa depannya menjadi lebih aman.
Pemeriksaan kedua melihat setengah pengangguran. Kelompok ini bekerja kurang dari jam kerja normal dan masih ingin atau bersedia menambah jam kerja. Mereka tidak muncul dalam tingkat pengangguran terbuka karena sudah mempunyai pekerjaan, tetapi kapasitas kerjanya belum terserap penuh. Seorang pekerja yang hanya memperoleh beberapa hari kerja dalam sebulan mungkin secara statistik tidak menganggur, sementara secara ekonomi tetap kesulitan membayar sewa, transportasi, makanan, dan kebutuhan keluarga.
Besarnya kelompok tersebut juga memberi petunjuk mengenai permintaan tenaga kerja. Ketika perusahaan dan usaha kecil tidak memiliki cukup pesanan, penyesuaian tidak selalu terjadi melalui pemutusan hubungan kerja. Jam kerja dapat dikurangi, pekerja dipanggil hanya ketika dibutuhkan, atau pekerjaan dialihkan menjadi borongan. Tingkat pengangguran dapat tetap rendah karena orang mempertahankan aktivitas apa pun yang tersedia, tetapi pendapatan mereka menyusut melalui pintu yang tidak tertangkap oleh angka utama.
Pemeriksaan ketiga menemukan informalitas. Data BPS selama bertahun-tahun menunjukkan bahwa lebih dari separuh penduduk bekerja berada dalam kegiatan informal. Kelompok ini sangat beragam: petani, pedagang, pengemudi, pekerja bangunan, pekerja rumah tangga, pekerja keluarga, pengusaha mikro, dan pekerja berbasis platform tidak dapat dianggap mengalami kondisi yang sama. Sebagian memilih usaha mandiri dan berhasil. Namun bagi banyak orang, pekerjaan informal merupakan tempat berlindung ketika pekerjaan formal tidak tersedia.
Informalitas menjadi masalah ketika hadir bersama pendapatan rendah, kontrak yang tidak jelas, perlindungan kecelakaan yang lemah, tidak adanya cuti berbayar, dan kesulitan mengakses jaminan sosial. Risiko usaha dan perubahan permintaan dipindahkan kepada pekerja. Ketika sakit, kendaraan rusak, hujan menghentikan pekerjaan, atau platform mengubah aturan, pendapatan dapat hilang seketika. Pasar kerja tampak lentur karena orang cepat berpindah ke pekerjaan lain, padahal kelenturan itu sering dibayar oleh rumah tangga sendiri.
Pemeriksaan keempat mengarah pada upah. Rata-rata upah buruh berguna, tetapi rata-rata dapat ditarik naik oleh kelompok berpenghasilan tinggi dan menyembunyikan jarak antarsektor, pendidikan, gender, serta wilayah. Median upah, distribusi upah, dan perubahan upah riil lebih dekat dengan pengalaman pekerja pada umumnya. Kenaikan upah nominal tidak menghasilkan perbaikan bila habis dikejar harga makanan, perumahan, transportasi, pendidikan, dan layanan kesehatan.
Perbandingan upah juga harus memperhitungkan jam kerja. Dua orang dapat menerima pendapatan bulanan yang sama, tetapi salah satunya bekerja jauh lebih lama atau menanggung biaya alat, bahan bakar, dan pemeliharaan sendiri. Pada pekerjaan platform dan usaha mandiri, pendapatan kotor bukan upah bersih. Setelah biaya operasional dan waktu menunggu diperhitungkan, nilai yang diterima untuk setiap jam kerja dapat jauh lebih kecil daripada yang tampak pada total transaksi.
Pemeriksaan kelima mencari jejak mobilitas. Pekerjaan yang baik bukan hanya pekerjaan yang membayar kebutuhan hari ini. Ia memberi kesempatan mempelajari keterampilan, memperoleh tanggung jawab baru, meningkatkan upah, dan berpindah ke posisi yang lebih produktif. Sebaliknya, pekerjaan tanpa pelatihan, jenjang, atau pengakuan kompetensi dapat membuat seseorang sibuk bertahun-tahun tanpa mendekatkan dirinya pada keamanan ekonomi.
Di sinilah hubungan antara pendidikan dan pekerjaan perlu dibaca dengan hati-hati. Pengangguran pada lulusan sekolah menengah dan pendidikan tinggi sering dipandang sebagai bukti bahwa mereka terlalu memilih pekerjaan. Penjelasan itu terlalu mudah. Masa tunggu juga dapat menunjukkan ketidakcocokan antara keterampilan yang diajarkan, lokasi pencari kerja, informasi lowongan, kebutuhan industri, dan jumlah pekerjaan pemula yang menawarkan jalur karier. Menurunkan ekspektasi lulusan tidak akan menyelesaikan kekurangan pekerjaan produktif.
Struktur penciptaan lapangan kerja sama pentingnya dengan jumlah. Sektor perdagangan, pertanian, akomodasi dan makanan, konstruksi, serta berbagai jasa mampu menyerap banyak tenaga kerja. Namun produktivitas dan kualitas kerja di dalam satu sektor sangat beragam. Sebuah restoran modern dan pedagang makanan keliling berada dalam rumpun kegiatan yang berdekatan, tetapi berbeda dalam modal, teknologi, kestabilan permintaan, dan perlindungan pekerja. Karena itu, slogan penciptaan jutaan lapangan kerja baru tidak lengkap tanpa penjelasan mengenai sektor, status kerja, jam, upah, dan jaminannya.
Pemerintah juga tidak dapat menyerahkan peningkatan mutu pekerjaan kepada pelatihan semata. Pelatihan membantu bila ada perusahaan produktif yang membutuhkan keterampilan tersebut. Tanpa investasi, persaingan sehat, akses pembiayaan, infrastruktur, kepastian aturan, dan permintaan yang berkembang, sertifikat hanya memperbanyak pasokan pencari kerja untuk lowongan yang sama. Kebijakan tenaga kerja harus berjalan bersama kebijakan industri, usaha kecil, pendidikan, transportasi, perawatan anak, dan perlindungan sosial.
Autopsi ini tidak membatalkan kabar baik dari turunnya pengangguran. Ia menempatkan kabar itu pada ukuran yang tepat. Tingkat pengangguran terbuka tetap penting untuk melihat berapa banyak orang yang mencari pekerjaan dan belum memperolehnya. Akan tetapi, ia bukan sertifikat kesehatan pasar kerja.
Setiap rilis ketenagakerjaan seharusnya dibaca sedikitnya bersama lima indikator lain: setengah pengangguran, proporsi pekerjaan informal, median dan perubahan upah riil, kepesertaan jaminan sosial, serta perpindahan pekerja menuju pekerjaan berproduktivitas lebih tinggi. Jam kerja dan biaya untuk memperoleh penghasilan juga perlu mendapat tempat lebih besar, terutama ketika kerja platform dan pekerjaan berbasis permintaan terus berkembang.
Pertanyaan yang paling jujur akhirnya bukan hanya berapa banyak orang bekerja. Pertanyaannya adalah berapa banyak yang dapat merencanakan hidup dari pekerjaannya: membayar kebutuhan tanpa utang mahal, beristirahat ketika sakit, meningkatkan keterampilan, menanggung keadaan darurat, dan berharap penghasilannya membaik. Pertumbuhan ekonomi baru terasa menjanjikan ketika pekerjaan tidak sekadar mencegah seseorang masuk kolom pengangguran, tetapi memberinya jalan untuk maju.
References
1. https://www.bps.go.id/id/pressrelease.html
2. https://www.bps.go.id/id/statistics-table?subject=520
3. https://www.bps.go.id/id/publication
4. https://rshiny.ilo.org/dataexplorer46/?lang=en&id=IDN_A
5. https://ilostat.ilo.org/data/country-profiles/
6. https://www.worldbank.org/en/country/indonesia/overview