Terdakwa dalam perkara ini adalah sebuah gagasan yang terdengar hampir mustahil dibantah: semakin banyak teknologi dipakai, semakin produktif pula perekonomian. Bukti awal tampak meyakinkan. Pembayaran dapat diselesaikan dalam hitungan detik. Pedagang menjangkau pembeli melalui lokapasar. Perusahaan menyimpan dokumen di komputasi awan. Kecerdasan artifisial menyusun ringkasan, menerjemahkan teks, dan membantu layanan pelanggan. Pekerjaan yang dahulu membutuhkan berjam-jam kini dapat dilakukan dalam beberapa menit.
Jaksa penuntut mitos itu kemudian mengajukan satu pertanyaan sederhana: jika teknologi telah menyebar begitu cepat, mengapa peningkatan produktivitas tidak selalu bergerak sama cepatnya?
Produktivitas bukan ukuran seberapa modern sebuah perusahaan terlihat. Ia menggambarkan seberapa banyak nilai yang dapat dihasilkan dari tenaga kerja, modal, waktu, energi, dan bahan yang digunakan. Membeli perangkat lunak atau membuka toko daring adalah input. Hasilnya baru disebut peningkatan produktivitas bila perusahaan mampu menjual lebih banyak dengan sumber daya yang sama, mengurangi pemborosan, memperbaiki mutu, menciptakan produk bernilai lebih tinggi, atau membebaskan pekerja untuk mengerjakan tugas yang lebih berguna.
Saksi pertama yang dihadirkan adalah adopsi dangkal. Banyak teknologi dipakai hanya pada lapisan paling luar usaha: promosi melalui media sosial, komunikasi lewat aplikasi pesan, menerima pembayaran digital, atau mencatat transaksi sederhana. Semua itu bermanfaat, tetapi tidak otomatis mengubah cara barang dibuat, stok direncanakan, mutu dijaga, pemasok dipilih, maupun keputusan investasi dilakukan.
Sebuah warung dapat menerima pembayaran digital tanpa mengetahui produk mana yang memberi margin terbaik. Sebuah pabrik dapat memasang sensor tetapi tetap mengabaikan data kerusakan mesin. Kantor dapat memindahkan formulir kertas ke layar sambil mempertahankan seluruh tahapan persetujuan lama. Dalam kasus terakhir, birokrasi tidak dihilangkan; ia hanya memperoleh kata sandi.
Saksi kedua adalah mutu manajemen. Teknologi bekerja melalui organisasi. Perusahaan harus menentukan masalah yang ingin diselesaikan, memilih sistem yang sesuai, membersihkan data, membagi tanggung jawab, melatih pekerja, dan mengevaluasi hasil. Tanpa kemampuan tersebut, perangkat baru menambah biaya langganan, kebingungan, serta pekerjaan ganda.
Bank Dunia melalui Enterprise Surveys mengukur berbagai hambatan perusahaan, termasuk keterampilan tenaga kerja, akses pembiayaan, infrastruktur, regulasi, dan praktik usaha. Pelajarannya penting: keputusan teknologi tidak berlangsung dalam ruang hampa. Perusahaan yang tidak memiliki pencatatan rapi, target operasional, pemeliharaan terjadwal, atau pembagian kerja yang jelas akan kesulitan memperoleh manfaat dari sistem paling canggih sekalipun. Digitalisasi tidak menggantikan manajemen; ia sering memperbesar akibat dari manajemen yang sudah ada.
Jika prosesnya baik, teknologi membantu perusahaan menjalankannya lebih cepat dan akurat. Jika prosesnya buruk, teknologi dapat membuat kekeliruan menyebar lebih cepat. Data penjualan yang tidak konsisten menghasilkan perkiraan permintaan yang salah. Sistem otomatis yang memakai data buruk tidak menjadi objektif hanya karena keputusannya dibuat mesin. Kecerdasan artifisial yang ditempatkan pada prosedur pelayanan yang membingungkan dapat menambah satu lapisan baru antara pelanggan dan penyelesaian masalah.
Saksi ketiga adalah skala usaha. Struktur perusahaan Indonesia didominasi unit mikro dan kecil. Mereka menyediakan pekerjaan dan penghidupan dalam jumlah sangat besar, tetapi banyak yang beroperasi dengan modal tipis, permintaan tidak pasti, serta batas kabur antara keuangan usaha dan rumah tangga. Dalam keadaan seperti ini, teknologi yang secara teori menguntungkan belum tentu layak dibeli atau dipelajari.
Sebuah sistem pengelolaan persediaan mungkin mengurangi kehilangan stok, tetapi manfaatnya kecil bila usaha hanya mempunyai beberapa jenis produk. Mesin otomatis dapat menurunkan biaya per unit, tetapi tidak ekonomis bila pesanan berfluktuasi dan kapasitas jarang terpakai. Platform daring dapat memperluas pasar, tetapi juga menghadirkan biaya iklan, komisi, persaingan harga, kebutuhan pengemasan, serta pengembalian barang. Omzet digital dapat naik sementara margin justru menyusut.
Karena itu, menghitung jumlah usaha yang masuk platform tidak cukup. Pemeriksaan harus melihat apakah mereka bertahan, memperoleh pelanggan berulang, memperbaiki margin, menambah pekerja, dan beranjak menuju kegiatan dengan nilai tambah lebih tinggi. Kehadiran digital adalah indikator akses; produktivitas adalah indikator hasil.
Saksi keempat adalah keterampilan. Perdebatan teknologi sering membagi pekerjaan menjadi dua kelompok: yang akan digantikan dan yang akan selamat. Kenyataannya lebih rumit. Teknologi biasanya mengubah susunan tugas di dalam pekerjaan. Sebagian tugas menjadi otomatis, sebagian semakin penting, dan tugas baru muncul. Manfaat terbesar diperoleh ketika pekerja mampu menggunakan waktu yang dibebaskan untuk analisis, pemecahan masalah, perawatan, desain, penjualan, atau pelayanan yang lebih baik.
Bila pelatihan tidak tersedia, otomatisasi dapat menghasilkan mesin yang tidak digunakan maksimal atau pekerja yang hanya mengikuti instruksi tanpa memahami proses. Perusahaan lalu bergantung pada vendor untuk setiap penyesuaian. Produktivitas mungkin naik sesaat, tetapi kemampuan internal tidak berkembang. Transformasi yang lebih kuat terjadi ketika operator dapat membaca data, teknisi mampu memodifikasi sistem, manajer memahami implikasi operasional, dan pekerja ikut menemukan cara penggunaan yang lebih efektif.
Saksi kelima adalah lingkungan usaha. Perusahaan tidak dapat menjadi produktif sendirian. Pengiriman yang terlambat, listrik tidak andal, internet lemah, pembiayaan mahal, aturan tidak pasti, dan pemasok yang tidak konsisten dapat menghapus penghematan yang diciptakan teknologi di dalam pabrik. Sistem inventaris terbaik tidak mempercepat barang yang tertahan dalam perjalanan. Aplikasi penjualan tidak menyelesaikan keterbatasan kapasitas produksi. Analitik data tidak membantu banyak bila bahan baku berubah mutu dari satu pengiriman ke pengiriman berikutnya.
Di sinilah digitalisasi sering dipromosikan sebagai jalan pintas atas persoalan struktural. Teknologi memang dapat membantu koordinasi logistik, penilaian kredit, pencocokan pekerjaan, dan pelayanan publik. Namun ia tidak menghilangkan kebutuhan akan jalan, listrik, pendidikan, persaingan, kepastian hukum, dan lembaga yang dapat dipercaya. Sebuah antarmuka yang rapi tidak dapat menutupi fondasi yang rapuh selamanya.
Pembela mitos lalu mengajukan bukti terkuatnya: teknologi membutuhkan waktu sebelum dampaknya muncul. Argumen ini sah. Perusahaan harus melakukan investasi pelengkap, pekerja harus belajar, dan model usaha harus menyesuaikan diri. Pada tahap awal, biaya dapat naik sebelum efisiensi terlihat. Statistik produktivitas juga mungkin terlambat menangkap layanan digital yang gratis atau peningkatan mutu yang sulit diukur.
Namun pembelaan tersebut bukan alasan untuk menerima setiap proyek digital sebagai kemajuan. Justru karena hasilnya membutuhkan waktu, target harus ditentukan sejak awal. Masalah apa yang hendak diselesaikan? Biaya apa yang berkurang? Berapa jam kerja yang dibebaskan dan digunakan untuk apa? Apakah tingkat cacat turun? Apakah persediaan berputar lebih cepat? Apakah pekerja memperoleh keterampilan dan upah lebih baik? Apakah keuntungan bertahan setelah biaya platform, perangkat, keamanan, dan pelatihan dihitung?
Pengadilan akhirnya menjatuhkan putusan bersyarat. Teknologi tidak bersalah sebagai alat, tetapi klaim bahwa adopsinya otomatis menghasilkan produktivitas dinyatakan keliru. Aplikasi, robot, komputasi awan, dan AI dapat meningkatkan kemampuan perusahaan hanya ketika disertai perubahan proses, manajemen yang kompeten, pekerja terampil, investasi pelengkap, serta lingkungan usaha yang mendukung.
Karena itu, kebijakan transformasi digital seharusnya tidak berhenti pada jumlah akun, transaksi, perangkat, atau usaha yang dilatih. Ukurannya harus bergerak menuju biaya per unit, nilai tambah per pekerja, mutu produk, tingkat kegagalan, kemampuan ekspor, upah riil, pertumbuhan pemasok domestik, dan kelangsungan usaha setelah bantuan berakhir.
Indonesia tidak kekurangan antusiasme terhadap teknologi. Yang lebih dibutuhkan adalah kedisiplinan untuk membedakan alat dari hasil. Perusahaan produktif bukan perusahaan yang memakai aplikasi paling banyak, melainkan yang mampu mengubah pengetahuan dan teknologi menjadi nilai dengan lebih sedikit pemborosan. Transformasi digital baru layak disebut transformasi ketika yang berubah bukan hanya layarnya, tetapi cara organisasi belajar, bekerja, dan menghasilkan sesuatu.
References
1. https://www.apo-tokyo.org/productivitydatabook/
2. https://www.enterprisesurveys.org/en/data/exploreeconomies/2023/indonesia
3. https://www.bps.go.id/id/publication
4. https://www.bi.go.id/id/publikasi/laporan/Pages/LPI_2025.aspx
5. https://goingdigital.oecd.org/en/country/idn
6. https://www.worldbank.org/en/country/indonesia/publication/indonesia-economic-prospect