Pada 2024, fasilitas kesehatan di Indonesia mencatat sekitar 889 ribu kasus tuberkulosis. Angka sebesar itu dapat dibaca sebagai kemajuan: semakin banyak orang diperiksa, didiagnosis, dan masuk ke dalam sistem pelayanan kesehatan. Namun, angka tersebut juga menyimpan pertanyaan yang lebih sulit. Jika jumlah orang yang diperkirakan jatuh sakit melampaui satu juta, di manakah mereka yang belum tercatat?
Jawabannya tidak sesederhana “belum dilaporkanâ€. Dalam persoalan TBC, seseorang dapat hilang dari statistik melalui dua jalan yang berbeda. Pertama, ia sudah didiagnosis oleh fasilitas kesehatan, tetapi kasusnya belum masuk ke sistem pelaporan nasional. Kedua, dan jauh lebih mengkhawatirkan, ia belum pernah memperoleh diagnosis.
Perbedaan ini penting karena setiap masalah menuntut penyelesaian yang berbeda. Kasus yang belum dilaporkan membutuhkan sistem data yang lebih tertib. Orang yang belum didiagnosis membutuhkan sesuatu yang lebih mendasar: kesempatan untuk diperiksa sebelum penyakitnya bertambah berat atau menular kepada orang lain.
## Kemajuan yang mengubah bentuk persoalan
Studi Inventori TBC Nasional 2023–2024 memperkirakan tingkat kasus terdiagnosis yang belum dilaporkan sebesar 15,6 persen. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan hasil studi 2017. Dengan kata lain, Indonesia semakin baik dalam membawa diagnosis yang sudah dibuat oleh fasilitas kesehatan ke dalam sistem surveilans nasional.
Ini kemajuan nyata. Pelaporan yang lebih lengkap membantu pemerintah mengetahui kebutuhan obat, menemukan wilayah dengan beban tinggi, dan menilai apakah program berjalan sebagaimana mestinya.
Tetapi membaiknya pelaporan tidak otomatis berarti semua orang dengan TBC sudah ditemukan. Kajian epidemiologi WHO dan Kementerian Kesehatan memperkirakan lebih dari 140 ribu orang dengan TBC belum memperoleh diagnosis pada 2023. Mereka bukan sekadar baris yang terlambat dimasukkan ke komputer. Mereka adalah orang yang mungkin menganggap batuk berkepanjangan sebagai akibat rokok, cuaca, kelelahan, atau infeksi biasa.
Di sinilah keberhasilan administratif bertemu dengan keterbatasannya. Sistem dapat semakin mahir menghitung pasien yang datang, tetapi tetap tidak melihat orang yang belum pernah sampai ke tempat pemeriksaan.
## Mengapa diagnosis terlambat?
TBC tidak selalu dimulai dengan keadaan yang memaksa seseorang menghentikan seluruh aktivitas. Gejalanya dapat berkembang perlahan. Selama tubuh masih mampu bekerja dan menjalani kegiatan sehari-hari, pemeriksaan mudah ditunda.
Penundaan itu tidak selalu lahir dari ketidaktahuan. Bagi sebagian orang, datang ke fasilitas kesehatan berarti kehilangan pendapatan satu hari, mengeluarkan biaya perjalanan, atau mencari seseorang yang dapat menjaga anak. Di daerah tertentu, akses terhadap pemeriksaan juga tidak sesederhana menempuh perjalanan singkat ke puskesmas.
Ada pula persoalan stigma. Seseorang mungkin takut dijauhi keluarga, dianggap membawa penyakit menular, atau menghadapi masalah di tempat kerja. Ketakutan seperti ini dapat membuat gejala disembunyikan dan pemeriksaan ditunda.
Karena itu, menyebut pasien “tidak peduli kesehatan†hanya akan menutupi persoalan sebenarnya. Diagnosis terlambat sering merupakan hasil pertemuan antara gejala yang mudah diremehkan, akses layanan yang tidak merata, tekanan ekonomi, dan rasa takut terhadap reaksi lingkungan.
## Satu diagnosis seharusnya membuka pintu lain
Ketika satu kasus TBC ditemukan, pekerjaan layanan kesehatan tidak berhenti pada pemberian obat. Diagnosis tersebut memberi petunjuk mengenai orang lain yang mungkin memiliki risiko lebih tinggi: mereka yang tinggal serumah atau sering berada dalam ruang tertutup bersama pasien.
Pemeriksaan kontak erat bukan berarti setiap anggota keluarga dianggap sakit. Tujuannya adalah menemukan kemungkinan penularan lebih awal serta menentukan siapa yang membutuhkan pemeriksaan lanjutan atau terapi pencegahan.
Pendekatan ini jauh lebih terarah daripada menunggu orang datang setelah mengalami gejala berat. Jika seorang pasien adalah titik yang telah terlihat, kontak eratnya merupakan lingkaran pertama yang masuk akal untuk diperiksa.
Anak-anak, orang dengan HIV, lansia, dan orang dengan kondisi yang melemahkan daya tahan tubuh membutuhkan perhatian khusus. Pada kelompok tersebut, infeksi dapat berkembang menjadi penyakit aktif dengan risiko yang berbeda dibandingkan populasi umum.
## Diagnosis bukan garis akhir
Setelah seseorang dinyatakan mengalami TBC, tantangan berikutnya adalah memastikan pengobatan benar-benar dimulai dan diselesaikan.
Kementerian Kesehatan melaporkan bahwa pada 2024, inisiasi pengobatan TBC sensitif obat masih berada di bawah target program. Ini menunjukkan adanya jarak antara mengetahui seseorang sakit dan memastikan ia memperoleh terapi.
Pengobatan TBC membutuhkan waktu dan kedisiplinan, tetapi keberhasilannya tidak boleh dibebankan kepada pasien seorang diri. Efek samping obat, jarak ke fasilitas kesehatan, kehilangan pendapatan, serta kurangnya dukungan keluarga dapat memengaruhi kemampuan seseorang menjalani terapi.
Pendampingan yang baik bukan sekadar mengingatkan pasien agar meminum obat. Layanan perlu mengenali hambatan yang dihadapinya dan mencari cara agar pengobatan dapat dijalani tanpa menghancurkan kehidupan sehari-hari pasien.
Hal ini semakin penting pada TBC resisten obat, yang penanganannya lebih kompleks. Indonesia telah mulai menggunakan rejimen pengobatan yang lebih pendek untuk pasien tertentu, tetapi pemilihannya tetap memerlukan pemeriksaan dan penilaian tenaga kesehatan. Tidak ada satu jenis pengobatan yang dapat diterapkan sendiri kepada semua pasien.
## Angka besar membutuhkan pekerjaan yang sangat dekat
Target eliminasi TBC Indonesia pada 2030 menetapkan insiden 65 kasus per 100 ribu penduduk. Sementara itu, estimasi untuk 2023 masih sekitar 387 kasus per 100 ribu penduduk. Jarak tersebut menunjukkan bahwa eliminasi tidak mungkin dicapai hanya dengan memperbaiki satu bagian program.
Pelaporan harus semakin lengkap, tetapi orang yang belum terdiagnosis juga harus ditemukan. Pemeriksaan harus tersedia, tetapi pasien perlu didukung agar dapat memulai dan menyelesaikan pengobatan. Kontak erat harus dijangkau, tetapi stigma yang membuat keluarga menolak pemeriksaan juga perlu dikurangi.
Dengan demikian, angka 889 ribu notifikasi tidak seharusnya dibaca sebagai kegagalan ataupun kemenangan mutlak. Angka itu menunjukkan bahwa kapasitas penemuan kasus Indonesia telah tumbuh, sekaligus memperlihatkan pekerjaan yang belum selesai.
TBC tidak akan berkurang hanya karena sistem semakin pandai menghitung pasien. Perubahan terjadi ketika orang yang sebelumnya tidak terlihat dapat diperiksa lebih cepat, memperoleh pengobatan yang sesuai, dan tidak kehilangan dukungan ketika harus menjalaninya sampai tuntas.
References
1. https://www.who.int/teams/global-programme-on-tuberculosis-and-lung-health/tb-reports/global-tuberculosis-report-2025/tb-disease-burden/1-1-tb-incidence
2. https://www.who.int/indonesia/id/publications/m/item/laporan-hasil-studi-inventori-tb-indonesia-2023-2024
3. https://www.who.int/indonesia/news/detail/01-07-2025-strengthening-tb-surveillance-to-accelerate-indonesia-s-path-to-elimination
4. https://www.kemkes.go.id/id/47510/Pada-2025-target-nasional
5. https://peraturan.bpk.go.id/Download/167753/Perpres%20Nomor%2067%20Tahun%202021.pdf