Indonesia belakangan seperti sedang menerima banyak ketukan itu. Bumi berguncang. Hutan dan lahan terbakar. Gunung-gunung kembali menunjukkan aktivitasnya. Dan terakhir, Anak Krakatau kembali bergemuruh dari Selat Sunda. Tentu, secara ilmu pengetahuan semua mempunyai penjelasan. Indonesia memang berdiri di atas pertemuan lempeng tektonik dan cincin api Pasifik. Gunung meletus bukan karena presiden mengambil keputusan politik tertentu. Gempa tidak mengenal partai. Dan api yang membakar hutan pun mempunyai sebab yang dapat ditelusuri manusia. Karena itu, terlalu jauh, bahkan dapat menjadi kesombongan baru, apabila seseorang memastikan bahwa sebuah bencana adalah hukuman Tuhan kepada seorang pemimpin. Tetapi agama mengajarkan sesuatu yang sedikit berbeda: manusia tidak dilarang mengambil peringatan.
Memori 27 Agustus 1883: Ketika Dunia Meledak
Kita Membaca Alam Bukan Untuk Menyalahkan, Tapi Sekedar Mengingatkan
Oleh: Abu Witjaksono Pandega Respati
Ada masa ketika sejarah tidak perlu berteriak. Ia hanya mengetuk pelan. Persoalannya, apakah mereka yang berada di dalam istana masih bersedia mendengarnya.
Indonesia belakangan seperti sedang menerima banyak ketukan itu. Bumi berguncang. Hutan dan lahan terbakar. Gunung-gunung kembali menunjukkan aktivitasnya. Dan terakhir, Anak Krakatau kembali bergemuruh dari Selat Sunda.
Tentu, secara ilmu pengetahuan semua mempunyai penjelasan. Indonesia memang berdiri di atas pertemuan lempeng tektonik dan cincin api Pasifik. Gunung meletus bukan karena presiden mengambil keputusan politik tertentu. Gempa tidak mengenal partai. Dan api yang membakar hutan pun mempunyai sebab yang dapat ditelusuri manusia.
Karena itu, terlalu jauh, bahkan dapat menjadi kesombongan baru, apabila seseorang memastikan bahwa sebuah bencana adalah hukuman Tuhan kepada seorang pemimpin.
Tetapi agama mengajarkan sesuatu yang sedikit berbeda: manusia tidak dilarang mengambil peringatan.
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia…” demikian Al-Qur'an mengingatkan dalam Ar-Rum ayat 41.
Kalimat itu terasa sederhana. Tetapi bagi mereka yang memegang kekuasaan, ia seharusnya terdengar lebih keras.
Dari Jokowi kepada Prabowo
Dua pemimpin terakhir Indonesia, Joko Widodo dan Prabowo Subianto, datang dari perjalanan politik yang berbeda. Pernah berhadapan, kemudian berdamai. Pernah menjadi rival, kemudian berada dalam satu pemerintahan. Kini estafet kekuasaan telah berpindah tangan.
Sejarah kelak akan menilai keduanya lebih dingin daripada kita hari ini.
Ia akan mencatat pembangunan jalan, bendungan, hilirisasi, bantuan sosial, diplomasi, pertumbuhan ekonomi dan berbagai capaian lain. Tetapi sejarah juga akan membuka halaman tentang kualitas demokrasi, hukum, lingkungan, konflik kepentingan, ketimpangan, keberpihakan kepada rakyat kecil, serta bagaimana kekuasaan memperlakukan mereka yang berbeda pendapat.
Karena kekuasaan selalu mempunyai godaan yang sama: semakin lama seseorang berada dekat dengannya, semakin mudah ia menganggap bahwa apa yang baik bagi kekuasaan adalah otomatis baik bagi negeri.
Di sinilah pesan lama Bung Karno menemukan relevansinya: Jas Merah, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.
Sejarah bukan album foto para pemenang.
Sejarah adalah kaca spion kekuasaan.
Fir'aun Tidak Lahir sebagai Fir'aun
Kitab suci berulang kali menggunakan Fir'aun sebagai simbol kekuasaan yang kehilangan batas.
Menariknya, Al-Qur'an tidak memulai kisah itu dengan laut terbelah.
Ia terlebih dahulu menggambarkan perilaku kekuasaan.
“Sesungguhnya Fir'aun telah berbuat sewenang-wenang di bumi dan menjadikan penduduknya berpecah-belah…” (Al-Qashash: 4).
Di tempat lain bahkan terdapat kalimat yang lebih menggetarkan:
“Mereka mengikuti perintah Fir'aun, padahal perintah Fir'aun bukanlah perintah yang benar.” (Hud: 97).
Pesannya melampaui Mesir ribuan tahun silam.
Bahaya terbesar sebuah negeri bukan hanya ketika pemimpinnya salah, tetapi ketika kesalahan pemimpin tidak lagi berani dikatakan salah.
Ketika orang-orang di sekeliling penguasa hanya mengatakan, “Baik, Pak.”
Ketika kritik dianggap gangguan.
Ketika hukum mulai mengenali wajah.
Ketika kepentingan keluarga bercampur dengan kepentingan negara.
Ketika rakyat diminta memahami penguasa lebih sering daripada penguasa memahami rakyat.
Pada titik itulah sejarah biasanya mulai menulis bab yang berbeda.
Ketika Alam Bergemuruh
Kita tidak tahu bahasa Tuhan.
Karena itu kita tidak berhak menunjuk Anak Krakatau lalu berkata: ini azab.
Tidak.
Ilmu pengetahuan harus tetap ditempatkan pada tempat terhormatnya. Vulkanologi menjelaskan gunung api, seismologi menjelaskan gempa, klimatologi membantu memahami kebakaran dan perubahan iklim.
Tetapi seorang beriman boleh bertanya kepada dirinya sendiri:
Bagaimana jika di balik peristiwa alam yang sepenuhnya dapat dijelaskan secara ilmiah itu, ada kesempatan untuk berhenti sejenak dan bercermin?
Bukan mencari dosa orang lain.
Melainkan memeriksa diri sendiri.
Sebab Al-Qur'an memberikan peringatan yang lebih mengkhawatirkan:
“Dan takutlah kamu terhadap fitnah yang tidak hanya menimpa orang-orang zalim di antara kamu saja.” (Al-Anfal: 25).
Di situlah persoalannya menjadi serius.
Dalam banyak episode sejarah, keputusan segelintir elite memang akhirnya dibayar oleh orang banyak. Perang diputuskan di istana, tetapi yang kehilangan anak adalah rakyat. Hutan diberi konsesi melalui selembar keputusan, tetapi yang menghirup asap adalah penduduk. Ekonomi salah kelola di ruang berpendingin udara, tetapi harga beras dirasakan di dapur orang miskin.
Dosa kekuasaan, dalam pengertian sosial, memang sering mempunyai tagihan kolektif.
Musa Selalu Datang Membawa Peringatan
Ada sesuatu yang begitu kuat dari kisah Musa dan Fir'aun, termasuk ketika Hollywood menghidupkannya dalam The Ten Commandments.
Bukan sekadar laut yang terbelah.
Melainkan kesunyian sebelum malapetaka datang.
Peringatan diberikan berkali-kali. Kesempatan untuk berubah tersedia berkali-kali. Tetapi kekuasaan mempunyai penyakit lama: merasa bahwa mengalah adalah kehilangan wibawa.
Padahal terkadang, seorang pemimpin justru menjadi besar ketika berani berkata:
Saya keliru !
Karena itulah tulisan ini tidak hendak mengatakan Jokowi adalah Fir'aun. Prabowo tentu bukan Fir'aun. Indonesia juga bukan Mesir kuno.
Perbandingan seperti itu terlalu sederhana dan tidak adil.
Tetapi peringatan kepada Fir'aun berlaku bagi siapa pun yang memegang kekuasaan, presiden, menteri, gubernur, hakim, anggota parlemen, pengusaha, bahkan kita ketika mempunyai kuasa atas seorang manusia lainnya.
Kekuasaan harus mempunyai batas.
Sebelum Sejarah Memberikan Putusannya
Mungkin gempa hanyalah pergeseran lempeng.
Mungkin kebakaran hutan adalah kombinasi cuaca dan ulah manusia.
Dan Anak Krakatau meletus karena proses magmatik yang sudah berlangsung jauh sebelum Republik Indonesia berdiri.
Semua itu benar.
Tetapi tidak ada salahnya bila suara bumi yang bergemuruh membuat mereka yang sedang dan pernah berkuasa bertanya dalam kesunyian:
Adakah rakyat yang kami zalimi?
Adakah hukum yang kami bengkokkan?
Adakah amanah yang kami tukarkan dengan kepentingan keluarga, kelompok, atau kekuasaan?
Adakah alam yang kami korbankan demi angka pertumbuhan?
Dan yang paling penting:
Masihkah kami bersedia dikoreksi?
Pertanyaan itu mungkin perlu direnungkan oleh Joko Widodo. Perlu direnungkan oleh Prabowo Subianto. Dan sesungguhnya perlu direnungkan oleh seluruh elite Republik.
Sebab sejarah dunia telah memperlihatkan satu pola yang mengerikan: kekuasaan sering merasa paling kuat persis sebelum menemukan batasnya.
Bung Karno sudah meninggalkan pesannya: Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.
Kitab suci meninggalkan peringatan yang bahkan lebih tua.
“Jangan sekali-kali engkau mengira bahwa Allah lengah terhadap apa yang dilakukan oleh orang-orang zalim.” (Ibrahim: 42).
Maka ketika bumi berguncang, hutan terbakar dan Krakatau kembali bergemuruh, kita tidak perlu tergesa-gesa menyebutnya azab.
Cukuplah menjadikannya peringatan.
Sebab mungkin yang sedang mengetuk bukan murka Tuhan.
Mungkin baru teguran-Nya. Namun kita tidak perlu menunggu bukan?
Kilas Balik dari Masa Lalu
Tulisan Fadrik Aziz Firdausi dalam Rubrik tirto.id pada bulan Agustus 2018, merangkum secara indah sekaligus membuat resah, akan sejarah Krakatau: “Mula-mula getarannya kecil, lebih mirip udara yang menggeletar, serangkaian angin yang menyapu, kelebatnya atmosfer yang nyaris tak terasakan,” tulis jurnalis Simon Winchester dalam karyanya yang tersohor, Krakatau: Ketika Dunia Meledak 27 Agustus 1883 (2006, halaman 201).
“Kami melihat sebuah awan kumulus putih naik dengan cepat dari pulau itu. Awan itu nyaris vertikal, dan setelah sekitar setengah jam ia mencapai ketinggian sekitar 11.000 meter. Di situ ia mulai menyebar seperti sebuah payung, mungkin karena ia sudah mencapai ketinggian angin anti-pasat, sehingga tak lama kemudian hanya sebagian kecil dari langit biru itu yang tampak di cakrawala,” tulis Kapten Hollman dalam laporannya sebagaimana dikutip Winchester (halaman 206).
Sebagai gambaran, erupsi Krakatau yang menjulang di zona subduksi antara lempeng Indo-Australia dan Eurasia itu berkekuatan setara 21.574 bom atom yang meledak di Hiroshima dan Nagasaki. Letusannya dilaporkan terdengar hingga Kepulauan Mauritius yang berjarak 4.800 km dari lokasi. Tsunami yang ditimbulkan Krakatau menghancurkan sekira 163 desa dan menewaskan 36.417 penduduk di pesisir Lampung dan Banten. Jalaran tsunaminya terjauhnya bahkan mencapai Port Elizabeth di Afrika Selatan.
Seolah mengulangi sejarah, hari-hari ini Anak Krakatau kembali aktif, Anak Krakatau mulai muncul diatas permukaan laut sejak tahun 1927, dan sebelum erupsi pada tahun 2018 tingginya telah mencapai 330 meter diatas permukaan laut. Meski kecil kemungkinan akan meledak seperti leluhurnya pada 1883, kewaspadaan tak semestinya dikendurkan. Bagaimanapun, kita hidup di bawah naungan, peringatan dan terkadang teguran gunung api, erupsi yang menghancurkan dua per tiga tubuh Pulau Krakatau pada 1883 itu juga diawali dengan kejadian teguran serupa hari ini.
Dan dalam setiap teguran, masih tersedia kesempatan untuk memperbaiki diri, sebelum rakyat yang tidak tahu apa-apa ikut membayar harga dari kesalahan mereka yang berkuasa. (AWPR)
***
Abu Witjaksono Pandega Respati. (2026). "Memori 27 Agustus 1883: Ketika Dunia Meledak". Jurnal Akademia. https://jurnalakademia.my.id
