Ketika kalkulator mulai masuk ke sekolah, kekhawatiran yang muncul terdengar masuk akal: jika mesin dapat menghitung, apakah murid masih akan belajar matematika? Kekhawatiran serupa kini kembali dalam bentuk yang lebih rumit. Jika kecerdasan artifisial dapat menyusun esai, menjelaskan rumus, menerjemahkan teks, dan membuat presentasi, apa yang tersisa untuk dipelajari siswa?

Jawaban paling cepat adalah melarangnya. Telepon dikumpulkan, situs diblokir, dan setiap tulisan yang terlalu rapi dicurigai sebagai hasil mesin. Larangan semacam itu mungkin memudahkan pengawasan untuk sementara, tetapi tidak menjawab persoalan yang sebenarnya. AI sudah hadir di luar pagar sekolah. Ia berada di mesin pencari, aplikasi desain, perangkat penerjemahan, layanan pelanggan, dan perangkat lunak yang kelak digunakan siswa di tempat kerja.

Sekolah tidak sedang memilih apakah generasi muda akan hidup bersama AI. Pilihannya adalah apakah mereka akan mengenal teknologi tersebut dengan bimbingan atau menggunakannya diam-diam tanpa kemampuan menilai hasilnya.

## Masalahnya bukan sekadar siswa dapat berbuat curang

Kecurangan akademik telah ada jauh sebelum AI generatif. Siswa dapat menyalin pekerjaan teman, membeli tugas, atau mengambil tulisan dari internet. AI membuat proses itu lebih cepat dan lebih sulit dikenali, tetapi akar persoalannya tetap sama: tugas sekolah sering hanya meminta produk akhir yang mudah dipindahkan dari satu kepala ke kepala lain.

Jika seluruh nilai bergantung pada esai yang dikerjakan di rumah dengan topik generik, sekolah memang akan kesulitan mengetahui siapa yang menulisnya. Namun, menyalahkan AI saja berarti mengabaikan kelemahan rancangan tugas.

Guru dapat menilai proses, bukan hanya hasil. Siswa dapat diminta menjelaskan mengapa memilih argumen tertentu, menunjukkan perubahan dari draf pertama, mempertahankan kesimpulannya secara lisan, atau menghubungkan pembahasan dengan pengamatan yang dilakukan di lingkungan sendiri. AI mungkin membantu menyusun kalimat, tetapi tidak dapat menggantikan pengalaman belajar yang harus dijelaskan dan dipertanggungjawabkan siswa.

Dengan cara ini, kehadiran AI justru memaksa sekolah mengajukan pertanyaan yang selama ini tertunda: apakah tugas diberikan untuk menghasilkan lima halaman teks, atau untuk melatih seseorang berpikir?

## Kemampuan menggunakan bukan kemampuan mempercayai

Siswa dapat terlihat sangat terampil menggunakan AI karena mampu memperoleh jawaban dalam hitungan detik. Namun, kecepatan mendapatkan jawaban tidak sama dengan kemampuan menilai jawaban.

Sebuah sistem AI dapat menghasilkan penjelasan yang meyakinkan sekalipun isinya keliru. Ia dapat mencampurkan fakta, asumsi, dan informasi yang tidak pernah ada. Jika pengguna tidak memahami topiknya, kalimat yang terdengar percaya diri mudah dianggap benar.

Karena itu, literasi AI tidak cukup diajarkan sebagai keterampilan membuat perintah atau *prompt*. Kemampuan yang lebih penting adalah mengajukan pertanyaan lanjutan: Dari mana informasi ini berasal? Apakah sumbernya benar-benar ada? Bagian mana yang berupa fakta dan bagian mana yang hanya perkiraan? Siapa yang dirugikan jika keputusan berdasarkan jawaban ini ternyata salah?

UNESCO menempatkan penilaian kritis, etika, privasi, dan pendekatan yang berpusat pada manusia sebagai bagian penting penggunaan AI dalam pendidikan. Kerangka OECD dan Komisi Eropa juga tidak mendefinisikan literasi AI sebagai kemampuan mengoperasikan alat semata, melainkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap untuk memahami serta mengevaluasinya.

Artinya, siswa yang menerima setiap keluaran AI tanpa pemeriksaan bukanlah pengguna yang mahir. Ia hanya menjadi konsumen yang patuh.

## Guru tidak harus bersaing dengan mesin

Kehadiran AI sering dibicarakan seolah-olah guru akan berhadapan dengan lawan yang memiliki pengetahuan tanpa batas. Perbandingan ini keliru karena pekerjaan guru bukan sekadar menyediakan jawaban.

Guru membaca kebingungan yang tidak diucapkan siswa. Guru mengetahui kapan sebuah kesalahan muncul karena konsep belum dipahami dan kapan siswa sebenarnya hanya kurang percaya diri. Guru membangun suasana kelas, menengahi perbedaan, dan menentukan tantangan yang sesuai dengan perkembangan peserta didik. Semua itu membutuhkan hubungan dan tanggung jawab yang tidak dimiliki mesin.

AI dapat membantu menyiapkan contoh soal, menawarkan variasi penjelasan, atau memberikan umpan balik awal. Namun, keputusan tentang apa yang layak dipelajari, bagaimana siswa diperlakukan, dan apakah sebuah penilaian adil tetap merupakan keputusan manusia.

Sekolah justru perlu melindungi peran profesional guru dengan memberikan pelatihan yang memadai. Menyerahkan alat baru kepada guru tanpa waktu untuk memahaminya hanya akan menghasilkan dua kemungkinan: teknologi tidak digunakan sama sekali atau digunakan berdasarkan coba-coba.

## Larangan dapat memperbesar ketimpangan

Larangan total juga tidak menciptakan keadaan yang benar-benar setara. Siswa dengan perangkat pribadi, koneksi internet, dan dukungan keluarga tetap dapat mempelajari AI di luar sekolah. Mereka yang tidak memiliki akses justru kehilangan tempat paling aman untuk mengenalnya.

Akibatnya, sekolah berisiko menyerahkan pendidikan AI kepada kemampuan ekonomi keluarga. Sebagian siswa belajar memeriksa sumber, melindungi data pribadi, dan menggunakan AI untuk berkarya. Sebagian lain hanya mengenalnya melalui tren media sosial atau tidak mengenalnya sama sekali.

Pendekatan yang lebih adil adalah memberikan akses dan batas penggunaan yang jelas. Tidak setiap tugas harus memperbolehkan AI. Pada latihan tertentu, siswa memang perlu membaca, menghitung, atau menulis tanpa bantuan. Pada tugas lain, AI dapat digunakan secara terbuka dengan kewajiban menjelaskan bagian mana yang dibantu mesin, bagaimana hasilnya diperiksa, dan apa yang diubah oleh siswa.

Perbedaan aturan tersebut harus diterangkan sebagai bagian dari tujuan belajar, bukan sebagai permainan mencari siapa yang berhasil mengelabui guru.

## Sekolah perlu mengubah pertanyaannya

Pertanyaan “bagaimana mencegah siswa menggunakan AI?” terlalu sempit. Pertanyaan yang lebih berguna adalah: kemampuan apa yang tetap harus dimiliki siswa ketika AI tersedia di mana-mana?

Mereka tetap perlu membaca dengan teliti karena mesin dapat keliru. Mereka tetap perlu menulis karena menulis merupakan cara menyusun pikiran, bukan sekadar menghasilkan dokumen. Mereka tetap perlu memahami matematika agar dapat mengenali hasil perhitungan yang tidak masuk akal. Mereka juga perlu belajar etika, sebab teknologi memperbesar dampak pilihan manusia tanpa mengambil alih tanggung jawabnya.

Sekolah tidak perlu menerima AI tanpa kritik. Perlindungan data, batas usia, bias, ketergantungan pada perusahaan teknologi, serta dampaknya terhadap proses belajar harus diperdebatkan secara terbuka. Namun, kritik yang serius berbeda dari penolakan otomatis.

Melarang AI mungkin membuat kelas terlihat tenang. Sayangnya, dunia di luar kelas tidak ikut berhenti berubah. Tugas pendidikan bukan mempertahankan keadaan seolah-olah teknologi itu tidak pernah muncul, melainkan memastikan siswa tidak menjadi pengguna yang mudah diperdaya olehnya.

AI tidak boleh menggantikan proses berpikir. Karena alasan itulah sekolah harus mengajarkan cara menghadapinya.

References

1. https://www.unesco.org/en/articles/guidance-generative-ai-education-and-research

2. https://www.unesco.org/en/articles/ai-competency-framework-students

3. https://www.oecd.org/en/publications/empowering-learners-for-the-age-of-ai_65cd27d4-en.html

4. https://internal-portal.kemdikbud.go.id/en/pengumuman/13654-