Ada empat istilah yang kerap bercampur ketika megathrust dibicarakan: bahaya, risiko, probabilitas, dan prediksi. Keempatnya berhubungan, tetapi tidak dapat saling menggantikan. Ketika perbedaannya hilang, peta bahaya mudah dibaca sebagai jadwal bencana, skenario kesiapsiagaan dianggap ramalan, dan pernyataan tentang potensi magnitudo berubah menjadi kabar bahwa gempa besar akan segera terjadi.

Megathrust sendiri bukan nama satu gempa yang sedang menunggu giliran. Istilah itu merujuk pada bidang kontak antarlempeng di zona subduksi, tempat satu lempeng bergerak menunjam ke bawah lempeng lain. Indonesia berada di kawasan tektonik yang kompleks. Di sepanjang sebagian Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan wilayah lain, pergerakan lempeng dapat membuat bagian bidang kontak terkunci. Tegangan terakumulasi dan pada suatu saat dilepaskan sebagai gempa.

Pengetahuan tersebut berasal dari pengamatan geologi, posisi lempeng, rekaman gempa, pengukuran deformasi permukaan, endapan tsunami purba, serta pemodelan. Para ilmuwan dapat mengenali sumber gempa, memperkirakan geometri patahan, menilai laju pergerakan, dan menyusun skenario guncangan atau tsunami. Namun mengetahui bahwa sebuah proses fisik berlangsung tidak sama dengan mengetahui kapan pelepasan berikutnya akan terjadi.

Perbedaan pertama adalah antara bahaya dan risiko. Bahaya gempa menggambarkan kemungkinan terjadinya guncangan dengan tingkat tertentu pada suatu tempat dalam jangka waktu tertentu. Bahaya tsunami berkaitan dengan potensi gelombang, kedalaman genangan, arus, dan waktu tiba. Peta bahaya menjawab pertanyaan tentang apa yang secara fisik mungkin terjadi serta wilayah mana yang dapat terkena.

Risiko memasukkan manusia dan segala sesuatu yang telah dibangun. Dua wilayah dapat menghadapi bahaya guncangan serupa tetapi mempunyai risiko berbeda. Kota dengan bangunan rapuh, penduduk padat, rumah sakit yang tidak siap, akses evakuasi sempit, dan jaringan komunikasi tanpa cadangan akan menanggung akibat lebih besar. Sebaliknya, bangunan tahan gempa, latihan rutin, jalur evakuasi yang terawat, dan pemerintahan yang dapat bekerja setelah bencana mengurangi risiko tanpa mengubah sumber gempanya.

Ini perbedaan yang sangat penting. Indonesia tidak dapat menghentikan pergerakan lempeng, tetapi dapat mengubah jumlah korban dan kerusakan. Bahaya merupakan kondisi alam; risiko juga merupakan hasil pilihan tentang tata ruang, mutu konstruksi, pendidikan, anggaran, dan kesiapan lembaga.

Istilah ketiga adalah probabilitas. Probabilitas bukan tanggal yang disamarkan dalam bahasa statistik. Para ahli dapat memperkirakan peluang terlampauinya tingkat guncangan dalam periode tertentu atau menilai kecenderungan kejadian berdasarkan data yang tersedia. Hasilnya selalu disertai asumsi dan ketidakpastian. Catatan instrumental gempa jauh lebih pendek daripada siklus geologi, sedangkan satu segmen patahan tidak selalu mengulang perilaku masa lalunya secara identik.

Pernyataan bahwa suatu sumber mempunyai potensi menghasilkan gempa hingga magnitudo tertentu juga bukan probabilitas bahwa gempa sebesar itu akan terjadi tahun ini. Magnitudo maksimum dalam skenario bahaya adalah dasar untuk menguji konsekuensi terburuk yang masuk akal. Ia membantu menentukan standar bangunan, kebutuhan evakuasi, kapasitas layanan darurat, dan kesiapan menghadapi tsunami. Skenario sengaja dibuat berat agar sistem tidak hanya mampu menangani kejadian kecil.

BMKG, misalnya, menggunakan skenario gempa besar dalam latihan kesiapsiagaan megathrust dan tsunami. Sebuah latihan dapat mensimulasikan gempa bermagnitudo 9 di Selat Sunda atau memakai potensi gempa besar di selatan Jawa. Angka dalam simulasi bukan pengumuman bahwa peristiwa tersebut akan segera terjadi. Logikanya sama dengan rumah sakit yang berlatih menghadapi korban massal: skenario dipilih untuk menguji kelemahan, bukan karena penyelenggara mengetahui tanggal bencana.

Istilah keempat, prediksi, mempunyai tuntutan yang jauh lebih ketat. Prediksi gempa yang berguna harus menyebutkan waktu, lokasi, dan magnitudo dalam batas yang cukup spesifik serta menunjukkan keberhasilan yang dapat diuji. Sampai sekarang, lembaga ilmiah seperti USGS menegaskan bahwa gempa besar belum dapat diprediksi dengan cara tersebut. Ilmuwan dapat menghitung bahaya jangka panjang dan mendeteksi gempa setelah proses ruptur dimulai, tetapi belum memiliki tanda pendahulu yang konsisten untuk menentukan tanggal kejadian besar.

Banyak gejala pernah diajukan sebagai pertanda: perubahan perilaku hewan, anomali air tanah, emisi gas, gempa kecil, sinyal elektromagnetik, atau posisi benda langit. Persoalannya bukan apakah perubahan itu pernah terlihat sebelum suatu gempa. Sebuah indikator ilmiah harus muncul secara konsisten sebelum gempa dan jarang muncul ketika tidak ada gempa. Tanpa kemampuan membedakan sinyal dari kebetulan, daftar pertanda hanya menghasilkan alarm palsu.

Ketidakmampuan memprediksi tanggal bukan berarti sains tidak berguna. Justru sebagian besar keselamatan gempa tidak memerlukan ramalan tanggal. Standar bangunan bekerja setiap hari. Peta evakuasi tetap berguna meski gempa datang puluhan tahun lagi. Pendidikan tentang perlindungan diri dapat diterapkan segera setelah guncangan terasa. Sistem peringatan dini tsunami bekerja sesudah gempa terdeteksi dengan cepat, lalu mengolah lokasi, kedalaman, magnitudo, dan pengamatan muka laut untuk menilai ancaman.

Peringatan dini juga perlu dibedakan dari prediksi. Sistem seperti InaTEWS tidak mengumumkan gempa sebelum gempa dimulai. Ia berusaha mendeteksi kejadian, menganalisisnya, dan menyebarkan informasi secepat mungkin. Untuk tsunami dekat sumber, waktu yang tersedia dapat sangat singkat. Di kawasan pesisir, guncangan kuat atau lama merupakan peringatan alami. Warga tidak semestinya menunggu pesan di telepon bila tanda alam telah menunjukkan perlunya segera menuju tempat tinggi atau menjauh dari pantai.

Karena kecepatannya terbatas, teknologi harus dipasangkan dengan kebiasaan. Sirene dapat gagal karena listrik padam. Pesan dapat terlambat karena jaringan padat. Jalur evakuasi dapat terhalang. Sistem yang tangguh memakai beberapa saluran sekaligus, memiliki sumber daya cadangan, pembagian kewenangan yang jelas, dan masyarakat yang telah berlatih. UNESCO-IOC mendorong pendekatan komunitas siap tsunami karena alat hanya efektif bila orang mengetahui tindakan yang harus dilakukan setelah menerima peringatan.

Perubahan bahasa publik dapat membantu. Alih-alih bertanya, “Apakah megathrust akan segera pecah?”, pertanyaan yang lebih berguna adalah: bangunan mana yang belum memenuhi standar? Berapa lama perjalanan dari pantai menuju zona aman? Apakah sekolah, pasar, hotel, puskesmas, serta tempat ibadah memiliki prosedur? Apakah jalur dapat digunakan anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas? Siapa yang memeriksa sirene dan kapan pengujian terakhir dilakukan?

Pertanyaan lain menyangkut keberlanjutan. Kesiapsiagaan sering menguat setelah bencana besar atau ketika isu megathrust ramai dibicarakan, lalu melemah ketika perhatian berpindah. Padahal, penduduk berganti, papan petunjuk rusak, gedung baru berdiri, dan garis pantai berubah. Latihan harus menjadi kegiatan berkala, peta diperbarui, serta pembelajaran dari simulasi diumumkan. Ukuran keberhasilan bukan banyaknya peserta seremonial, melainkan waktu evakuasi, jangkauan peringatan, kesiapan fasilitas penting, dan perbaikan yang benar-benar dilakukan.

Megathrust memang bahaya nyata. Mengurangi pembahasannya menjadi ramalan tanggal justru mengecilkan makna sains. Ketidakpastian waktu bukan alasan untuk panik dan bukan pula alasan untuk menunda. Kita mungkin tidak tahu hari terjadinya gempa berikutnya, tetapi sudah mengetahui banyak hal yang dapat mengurangi akibatnya.

Sains tidak memberi kalender kiamat. Ia memberi peta bahaya, skenario, standar, sensor, dan waktu yang sangat berharga setelah kejadian dimulai. Tanggung jawab masyarakat dan pemerintah adalah mengubah pengetahuan tersebut menjadi bangunan yang tidak mudah runtuh, pesisir yang tahu ke mana harus berlari, serta layanan publik yang tetap bekerja ketika prediksi tanggal memang tidak pernah datang.

References

1. https://inatews.bmkg.go.id/

2. https://www.bmkg.go.id/berita/uji-kesiapsiagaan-nasional-kepala-bmkg-hadiri-pembukaan-admin-game-megathrust-dan-tsunami

3. https://www.bmkg.go.id/siaran-pers/bmkg-ingatkan-diy-rawan-gempabumi-dan-tsunami-kulon-progo-jadi-contoh-ketangguhan-bencana

4. https://www.bmkg.go.id/siaran-pers/bmkg-apresiasi-inisiatif-ugm-dan-telkom-untuk-perkuat-sistem-peringatan-dini-tsunami-nasional

5. https://www.usgs.gov/programs/earthquake-hazards/science-earthquake-hazards

6. https://tsunami.ioc.unesco.org/