Ketika kemampuan membaca anak Indonesia kembali menjadi bahan perdebatan, jawaban yang paling mudah biasanya berbentuk benda: tambah buku, bangun perpustakaan, atau buat pojok baca. Semua itu penting. Anak tidak mungkin menjadi pembaca jika tidak mempunyai bahan untuk dibaca.

Namun, kekurangan buku bukan satu-satunya mekanisme di balik krisis membaca. Sebuah sekolah dapat mempunyai rak yang penuh, tetapi murid tetap kesulitan mengenali bunyi, memahami kalimat, menemukan gagasan utama, atau menjelaskan kembali apa yang baru dibacanya. Buku yang tersedia tidak otomatis berubah menjadi kemampuan.

Hasil PISA 2022 menunjukkan kemampuan membaca murid Indonesia masih jauh di bawah rata-rata negara OECD. Bank Dunia, melalui indikator kemiskinan belajar, juga memperlihatkan besarnya proporsi anak yang belum mampu membaca dan memahami teks sederhana pada usia yang seharusnya telah menguasai kemampuan dasar tersebut. Rapor Pendidikan memotret persoalan serupa pada tingkat satuan pendidikan melalui indikator literasi berdasarkan Asesmen Nasional.

Tiga sumber itu menggunakan kerangka dan populasi yang berbeda. Semuanya tidak boleh dicampur menjadi satu angka sensasional. Akan tetapi, arahnya konsisten: terlalu banyak anak bersekolah tanpa memperoleh kemampuan membaca yang cukup untuk mempelajari hal lain.

Pertanyaan yang lebih berguna karena itu bukan hanya “berapa banyak buku yang kurang?”, melainkan “di bagian mana proses belajar membaca berhenti bekerja?”

## Mitos pertama: anak akan lancar membaca jika dikelilingi buku

Lingkungan kaya teks membantu. Anak yang melihat orang dewasa membaca, mendengar cerita, dan dapat mengambil buku tanpa takut merusaknya mempunyai lebih banyak kesempatan membangun kosakata serta rasa ingin tahu. Perpustakaan yang mudah diakses juga memperluas pengalaman melampaui isi buku pelajaran.

Tetapi paparan saja tidak cukup bagi banyak anak. Membaca bukan kemampuan yang tumbuh secara otomatis seperti bahasa lisan dalam lingkungan sehari-hari. Anak perlu memahami hubungan antara bunyi dan lambang, menggabungkan bunyi menjadi kata, membaca dengan cukup lancar, mengenali kosakata, lalu menggunakan pengetahuan untuk memahami teks.

Jika salah satu tahap rapuh, buku yang menarik pun dapat berubah menjadi dinding. Anak mungkin menebak kata dari gambar, menghafal bentuk kalimat, atau membaca nyaring tanpa memahami maknanya. Dari luar ia tampak sedang membaca. Ketika diminta menjelaskan isi, kesulitannya baru terlihat.

Pengadaan buku karena itu harus berjalan bersama pengajaran membaca yang eksplisit dan bertahap. Buku perlu sesuai dengan kemampuan, bahasa, usia, dan konteks murid. Guru juga harus mengetahui tujuan penggunaannya: melatih pemetaan bunyi, kelancaran, kosakata, pemahaman, atau diskusi tentang isi.

Rak penuh adalah masukan. Kemampuan memahami teks adalah hasil. Kebijakan sering merasa selesai pada bagian pertama karena lebih mudah dihitung dan difoto.

## Mitos kedua: membaca adalah urusan guru bahasa

Begitu murid melewati kelas awal, sekolah sering menganggap keterampilan membaca telah selesai diajarkan. Guru mata pelajaran kemudian menggunakan teks untuk mengajar ilmu pengetahuan, sejarah, matematika, atau geografi tanpa selalu memeriksa apakah murid memahami struktur dan kosakata di dalamnya.

Padahal, setiap bidang mempunyai cara membaca yang berbeda. Teks sains memuat hubungan sebab-akibat, istilah khusus, tabel, dan diagram. Soal matematika menuntut murid mengubah kalimat menjadi hubungan kuantitatif. Teks sejarah meminta pembaca membedakan peristiwa, sumber, kronologi, dan interpretasi.

Murid yang tampak lemah dalam sains mungkin sebenarnya gagal memahami pertanyaan. Anak yang tidak dapat menyelesaikan soal cerita belum tentu tidak mampu menghitung. Hambatan membaca dapat menyamar sebagai kelemahan pada seluruh mata pelajaran.

Karena itu, literasi harus diajarkan oleh semua guru sesuai karakter bidangnya. Ini bukan berarti guru olahraga atau matematika berubah menjadi guru bahasa. Mereka perlu membantu murid memahami kata kunci, membaca instruksi, menafsirkan grafik, merangkum informasi, dan menjelaskan alasan dengan bahasa sendiri.

Jika sekolah menyerahkan seluruh persoalan kepada satu mata pelajaran, murid yang tertinggal akan menghadapi teks yang semakin sulit tanpa memperoleh strategi baru.

## Mitos ketiga: satu program membaca cocok untuk semua anak

Ruang kelas tidak pernah benar-benar seragam. Sebagian murid dapat membaca lancar tetapi lemah memahami. Sebagian mengenal banyak kata, tetapi membaca terlalu lambat sehingga seluruh tenaga mental habis sebelum mencapai makna. Sebagian lain masih kesulitan menghubungkan huruf dan bunyi.

Memberikan tugas yang sama kepada seluruh kelas tidak menyelesaikan kebutuhan yang berbeda itu. Kegiatan membaca 15 menit, misalnya, dapat menjadi kebiasaan yang baik bagi anak yang sudah mampu memilih dan memahami buku. Bagi anak yang belum dapat membaca kalimat sederhana, waktu tersebut mungkin hanya menjadi 15 menit menatap halaman atau menyembunyikan kesulitan.

Sekolah membutuhkan asesmen singkat yang membantu guru menemukan letak hambatan. Tujuannya bukan menambah ujian atau memberi label kepada anak. Informasi tersebut diperlukan untuk menentukan bantuan: latihan kesadaran bunyi, pengenalan kata, pembacaan berulang, pengembangan kosakata, atau pembahasan makna teks.

Bantuan harus diberikan segera. Kesulitan membaca bersifat kumulatif. Ketika anak tidak memahami teks pada kelas awal, ia kehilangan kesempatan mempelajari kosakata dan pengetahuan baru. Teks pada kelas berikutnya semakin kompleks, sedangkan jarak dengan teman bertambah. Menunggu sampai ujian akhir berarti membiarkan masalah kecil berkembang menjadi kegagalan lintas mata pelajaran.

## Bahasa yang dikenal anak menentukan pintu masuk

Indonesia mempunyai keragaman bahasa yang besar. Banyak anak memasuki sekolah dengan bahasa rumah yang berbeda dari bahasa pengantar. Keadaan ini bukan kekurangan pada diri anak. Mereka sudah memiliki pengetahuan dan kemampuan berbahasa, tetapi sekolah dapat gagal menghubungkan kemampuan tersebut dengan bahasa yang digunakan dalam buku.

Jika anak harus mempelajari bunyi, kosakata, struktur kalimat, dan isi pelajaran baru secara bersamaan, beban belajarnya menjadi jauh lebih berat. Pendekatan yang menggunakan bahasa yang dipahami anak sebagai jembatan dapat membantu mereka menguasai konsep sekaligus beralih secara bertahap ke bahasa Indonesia.

Buku bacaan juga perlu mencerminkan pengalaman yang dapat dikenali tanpa membatasi anak hanya pada lingkungan terdekatnya. Teks lokal memberi pijakan; bacaan yang lebih luas membuka dunia. Pilihannya bukan antara cerita daerah dan pengetahuan global, melainkan bagaimana menyusun jalur agar anak dapat mencapai keduanya.

Kebijakan distribusi buku harus memperhatikan hal ini. Mengirim judul yang sama ke semua tempat mungkin efisien secara logistik, tetapi belum tentu efektif secara pedagogis.

## Data harus kembali ke ruang kelas

PISA berguna untuk melihat posisi sistem pendidikan dan pola ketimpangannya. Indikator kemiskinan belajar menunjukkan besarnya kebutuhan pada kemampuan dasar. Rapor Pendidikan membantu pemerintah daerah serta sekolah mengenali capaian dan faktor yang berkaitan dengan proses belajar.

Namun, data nasional tidak dapat memberi tahu seorang guru kata mana yang belum dikenali oleh murid tertentu pada Senin pagi. Sebaliknya, catatan kelas tidak cukup untuk menilai apakah kebijakan nasional bekerja. Keduanya mempunyai fungsi berbeda dan harus terhubung.

Sekolah perlu menggunakan hasil asesmen untuk memperbaiki pengajaran, bukan sekadar mengisi dokumen perencanaan. Pemerintah daerah perlu melihat sekolah mana yang membutuhkan dukungan pelatih, bahan bacaan, atau intervensi lebih intensif. Pemerintah pusat harus menilai apakah distribusi sumber daya mengurangi kesenjangan, bukan hanya menaikkan rata-rata.

Ukuran keberhasilan juga perlu bergerak melampaui jumlah perpustakaan, buku terkirim, guru dilatih, atau kegiatan literasi dilaksanakan. Semua itu baru menunjukkan aktivitas. Hasil yang dicari adalah lebih banyak anak membaca akurat, lancar, memahami isi, dan menggunakan teks untuk belajar.

## Guru membutuhkan alat, waktu, dan pendampingan

Tidak adil menuntut guru menyelesaikan krisis membaca tanpa dukungan. Kelas besar, kemampuan murid yang beragam, beban administrasi, kekurangan bahan yang sesuai, dan pelatihan yang terputus-putus membatasi pilihan mereka.

Pelatihan satu kali jarang cukup mengubah praktik. Guru membutuhkan contoh pelajaran, bahan yang mudah digunakan, kesempatan mengamati, umpan balik, dan waktu untuk membahas perkembangan murid bersama rekan. Kepala sekolah perlu melindungi waktu pengajaran serta memastikan intervensi tidak berhenti ketika proyek selesai.

Pendidikan guru juga harus memberi fondasi mengenai bagaimana kemampuan membaca berkembang dan bagaimana kesulitan dikenali. Strategi mengajar bukan kumpulan permainan kelas, melainkan keputusan berdasarkan tahap belajar anak.

Krisis membaca pada akhirnya bukan cerita tentang anak yang kurang rajin atau keluarga yang tidak peduli. Ia merupakan kegagalan sistem mengubah waktu bersekolah menjadi kemampuan dasar secara konsisten. Keluarga berpengaruh, tetapi sekolah ada justru agar nasib belajar anak tidak sepenuhnya ditentukan oleh jumlah buku, pendidikan orang tua, atau kemampuan membeli les di rumah.

Indonesia tetap membutuhkan lebih banyak buku yang baik, terjangkau, menarik, dan hadir dalam bahasa yang sesuai. Namun, buku harus sampai bukan hanya ke sekolah, melainkan ke tangan anak yang telah dibantu untuk membacanya.

Kita boleh merayakan rak baru. Setelah itu, pertanyaan yang jauh lebih penting harus diajukan: anak mana yang kini dapat memahami satu halaman yang sebelumnya tidak dapat ia baca? Jika pertanyaan tersebut belum terjawab, krisis membaca tidak selesai. Ia hanya dikelilingi lebih banyak buku.

References

1. https://www.oecd.org/publication/pisa-2022-results/country-notes/indonesia-c2e1ae0e/

2. https://www.oecd.org/pisa/publications/Countrynote_IDN_Indonesian.pdf

3. https://www.worldbank.org/en/topic/education/brief/what-is-learning-poverty

4. https://documents1.worldbank.org/curated/en/099000007152223103/pdf/IDU0b7c3c6500e2d604a9709f650f2f6046b8.pdf

5. https://raporpendidikan.kemdikbud.go.id/

6. https://pusmendik.kemdikbud.go.id/an/page/asesmen_kompetensi_minimum

7. https://www.unesco.org/gem-report/en/foundations