Di banyak tempat, sebuah pengalaman kini seperti mempunyai dua waktu. Waktu pertama adalah saat ia terjadi. Waktu kedua adalah saat ia dipilih, dipotong, diberi musik, ditulis keterangannya, lalu diperlihatkan kepada orang lain.

Kita datang ke pertunjukan dan mengangkat telepon sebelum lagu pertama selesai. Makanan tiba, tetapi tangan yang lapar menunggu kamera memperoleh sudut yang tepat. Seorang teman mengucapkan sesuatu yang lucu, dan sebagian pikiran langsung membayangkan bagaimana kalimat itu akan terlihat sebagai unggahan. Bahkan kesedihan dapat memiliki draf, pencahayaan, dan waktu tayang.

Tidak ada yang salah dengan merekam. Foto keluarga dapat menyimpan wajah yang kelak tidak lagi duduk di meja yang sama. Video pendek dapat membawa kita kembali pada suara, gerak, dan suasana yang dilupakan ingatan. Bagi banyak orang, membuat konten juga merupakan pekerjaan, seni, cara menemukan komunitas, atau sarana menyampaikan pengalaman yang selama ini tidak mendapat ruang.

Masalahnya muncul ketika dokumentasi tidak lagi mengikuti pengalaman, melainkan mulai memerintahkannya.

Sebuah perjalanan kemudian dipilih karena mudah ditampilkan. Percakapan disela untuk mengambil ulang adegan yang sebenarnya sudah berlalu. Makanan tidak hanya harus enak, tetapi harus tampak pantas dibagikan. Tempat yang sepi dianggap belum berhasil dikunjungi sampai orang lain mengetahui kita pernah berada di sana. Pengalaman memperoleh nilai tambahan melalui respons, lalu nilai tambahan itu perlahan terasa seperti nilai utamanya.

Pada saat tersebut, kita bukan hanya menjalani kehidupan. Kita merangkap sebagai sutradara, juru kamera, penyunting, penerbit, dan petugas promosi bagi diri sendiri.

Kehadiran kamera mengubah perhatian. Mata tidak lagi sekadar melihat matahari tenggelam; ia mencari komposisi. Telinga tidak sepenuhnya mendengar cerita; ia menunggu potongan yang dapat dikutip. Pikiran bergerak keluar dari momen menuju penonton yang belum hadir. Kita bertanya bukan hanya “apa yang sedang saya rasakan?”, tetapi juga “bagaimana ini akan terlihat?”.

Pertanyaan kedua tidak selalu merusak yang pertama. Seniman, wartawan, dan pembuat film telah lama memandang dunia dengan kesadaran bahwa pengalaman akan dibentuk kembali. Perbedaannya terletak pada frekuensi dan kewajiban yang dirasakan. Dahulu, seseorang dapat memilih kapan menjadi pencatat. Sekarang, ia mudah merasa bahwa setiap kejadian yang tidak direkam adalah kesempatan yang terbuang.

Rasa kehilangan itu aneh. Momen telah dijalani, tetapi terasa belum lengkap karena tidak menghasilkan bukti. Kita dapat menikmati makan malam yang hangat lalu pulang dengan sedikit penyesalan karena tidak mengambil gambar. Seolah-olah ingatan pribadi kurang sah tanpa arsip publik.

Platform memahami kecenderungan tersebut. Perhatian adalah sumber daya yang diperebutkan. Sistem rekomendasi membutuhkan aliran bahan baru agar pengguna terus melihat, bereaksi, dan kembali. Ia tidak harus memerintahkan kita mengunggah setiap hari. Cukup menyediakan angka yang mudah dibaca—tayangan, suka, komentar, pengikut—dan membiarkan kita belajar sendiri jenis kehidupan mana yang memperoleh respons.

Angka itu kemudian memasuki keputusan kecil. Pembukaan harus lebih cepat. Judul harus lebih keras. Wajah harus terlihat pada detik pertama. Kisah harus disederhanakan agar tidak membuat orang berpindah. Pengalaman yang rumit, sunyi, lambat, atau tidak mempunyai kesimpulan menjadi sulit diterjemahkan ke dalam format tersebut.

Lambat laun, bukan hanya konten yang menyesuaikan diri dengan platform. Kehidupan ikut menyesuaikan diri dengan kebutuhan konten.

Kita mungkin mulai melakukan sesuatu karena dapat direkam, mengulang spontanitas agar tampak spontan, atau mempertahankan kebiasaan yang sudah tidak menyenangkan karena penonton mengenal kita melaluinya. Persona publik memberi bentuk yang mudah dipahami, tetapi bentuk itu dapat menjadi sempit. Orang yang dikenal selalu lucu merasa perlu mengubah luka menjadi lelucon. Orang yang dikenal produktif menyembunyikan hari yang berantakan. Orang yang menjadikan hubungan sebagai konten harus terus mempertunjukkan kedekatan, bahkan ketika kedekatan sedang membutuhkan ruang tertutup.

Masalahnya tidak berhenti pada diri sendiri. Kamera kita sering menangkap orang lain: anak, pasangan, teman, pelayan, pengemudi, pasien, orang yang sedang berduka, atau seseorang yang kebetulan lewat. Mereka dapat berubah menjadi pemeran dalam cerita yang tidak pernah mereka setujui.

Persetujuan dalam situasi semacam itu bukan sekadar seseorang tidak menolak ketika kamera diarahkan. Ada perbedaan kuasa, pengetahuan, dan konsekuensi. Seorang anak belum memahami bagaimana rekaman masa kecil dapat ditemukan bertahun-tahun kemudian. Pegawai mungkin tidak merasa bebas menolak pelanggan. Seseorang yang sedang mengalami krisis tidak berada dalam keadaan ideal untuk mempertimbangkan jangkauan sebuah video. Teman dapat menyetujui perekaman tanpa menyadari bahwa percakapan akan dipotong, diberi narasi, dan ditonton ribuan orang.

Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi mengakui foto dan data yang dapat mengidentifikasi seseorang sebagai bagian dari ranah yang perlu dilindungi. Namun persoalan etis lebih luas daripada pertanyaan apakah sebuah unggahan melanggar hukum. Sesuatu dapat legal tetapi tetap tidak pantas. Wajah seseorang dapat berada di ruang publik, tetapi itu tidak berarti kesedihannya tersedia sebagai bahan cerita.

Ada kalimat yang sering dipakai untuk membela perekaman: kalau tidak ingin direkam, jangan lakukan di tempat umum. Logika itu memindahkan seluruh beban kepada orang yang tertangkap kamera. Padahal kamera modern bukan sekadar mata tambahan. Ia dapat menyalin sebuah kejadian, melepaskannya dari konteks, menyimpannya tanpa batas waktu, dan membawanya kepada penonton yang tidak pernah dibayangkan orang di dalamnya.

Satu kesalahan kecil dahulu mungkin berakhir ketika orang-orang meninggalkan lokasi. Sekarang ia dapat menjadi identitas digital seseorang. Potongan beberapa detik diperlakukan sebagai ringkasan watak. Penonton melengkapi konteks yang hilang dengan dugaan, kemudian algoritma membawa dugaan tersebut lebih jauh daripada penjelasan.

Karena itu, hak untuk merekam sebaiknya ditemani kemampuan menahan diri. Tidak semua hal yang menarik perlu dibagikan. Tidak semua hal yang menyentuh harus dipublikasikan. Tidak setiap ketidakadilan perlu ditampilkan dengan wajah korban terbuka. Bahkan niat baik dapat mengambil martabat orang lain bila kamera menjadikan kerentanan sebagai bukti kemurahan hati kita.

Menahan diri juga berguna bagi kehidupan pribadi. Sebagian pengalaman membutuhkan waktu sebelum diberi bentuk. Kesedihan yang langsung diumumkan dapat mengundang respons sebelum kita mengerti apa yang dirasakan. Konflik yang disiarkan memperoleh penonton yang membuat jalan pulang lebih sulit. Kebahagiaan yang terlalu cepat dinilai melalui respons orang lain dapat kehilangan ketenangannya sendiri.

Mungkin kita perlu memulihkan gagasan bahwa tidak terlihat bukan berarti tidak berharga. Sebuah percakapan dapat bermakna walaupun tidak menghasilkan kutipan. Sebuah perjalanan tetap terjadi meskipun hanya tersimpan dalam ingatan yang akan memudar. Makanan tidak menjadi sia-sia karena dimakan hangat tanpa foto. Persahabatan tidak kurang nyata karena bagian terbaiknya tidak diketahui pengikut.

Ini bukan seruan untuk meninggalkan media sosial atau memusuhi kamera. Yang dibutuhkan hanyalah jarak kecil antara mengalami dan menerbitkan. Sebelum merekam, kita dapat bertanya apakah kamera akan mengganggu momen. Sebelum mengunggah, apakah orang lain memahami jangkauannya. Sebelum menjadikan sesuatu sebagai cerita, apakah cerita tersebut memang milik kita.

Sesekali, telepon dapat tetap berada di saku bukan karena momen itu biasa, melainkan karena ia terlalu utuh untuk segera diubah menjadi tampilan. Kita boleh membiarkan pengalaman selesai tanpa penonton. Boleh membawa pulang sesuatu yang tidak dapat dibuktikan kepada siapa pun.

Jika semua harus menjadi konten, kehidupan akan selalu mencari bentuk yang dapat dipertontonkan. Yang tersisa mungkin banyak rekaman, tetapi semakin sedikit ruang tempat kita tidak sedang tampil. Padahal sebagian kebebasan manusia lahir justru di sana: dalam momen yang tidak diukur, tidak disunting, dan tidak meminta persetujuan dari sebuah layar untuk terasa nyata.

References

1. https://peraturan.bpk.go.id/Details/229798/uu-no-27-tahun-2022

2. https://digital-strategy.ec.europa.eu/en/policies/digital-services-act-package

3. https://www.ftc.gov/business-guidance/advertising-marketing/endorsements-influencers-reviews

4. https://www.unicef.org/parenting/child-care/sharenting