SUMMARY

Fraud masih menjadi tantangan dalam praktik audit. Standar, pengendalian internal, dan teknologi pemeriksaan terus berkembang, tetapi kecurangan tetap dapat bertahan, termasuk dalam organisasi yang rutin diaudit. Selama ini, pembahasan fraud lebih banyak melihat persoalan dari sisi auditor. Padahal, ada sisi lain yang tidak kalah penting: bagaimana pelaku fraud melihat auditor? Artikel ini membahas perspektif tersebut dengan merujuk pada Andon et al. (2025), Nelson (2009), Perri (2026), dan ACFE (2026). Kajian menunjukkan bahwa pelaku fraud tidak hanya berusaha menyembunyikan bukti, tetapi juga mempelajari pola kerja auditor, memanfaatkan rutinitas audit, dan mengelola interaksi selama pemeriksaan. Mereka dapat membangun kedekatan, memanfaatkan keterbatasan waktu, membanjiri auditor dengan informasi, memainkan kelemahan diri, bahkan menggunakan tekanan atau intimidasi. Kondisi ini menunjukkan bahwa skeptisisme profesional tidak cukup dipahami sebagai sikap kritis terhadap bukti. Auditor juga perlu menjaga agar proses penilaiannya tidak mudah dipengaruhi oleh perilaku dan strategi pihak yang diaudit.

Pendahuluan

Ketika membicarakan audit dan fraud, perhatian kita biasanya tertuju pada auditor: bagaimana auditor menilai risiko, menguji bukti, dan menemukan kecurangan. Namun, ada satu sisi yang sering luput, yaitu bahwa auditor juga dipelajari oleh pihak yang diaudit. Bagi pelaku fraud, auditor bukan sekadar pemeriksa, tetapi orang yang perlu dipahami: apa yang biasanya ditanyakan, bukti seperti apa yang dianggap meyakinkan, bagaimana auditor merespons penjelasan, dan kapan auditor merasa pemeriksaannya sudah cukup.

Hal tersebut terlihat dalam penelitian Andon et al. (2025) yang mewawancarai 23 pelaku occupational fraud di Australia. Dari perspektif para pelaku tersebut, audit bukan sesuatu yang sepenuhnya tidak terduga. Ada pola, rutinitas, dan kebiasaan yang dapat dipelajari. Pengetahuan tersebut dapat memberi mereka rasa relatif aman dan membantu menentukan bagaimana mereka berinteraksi dengan auditor.

Perspektif ini penting karena fraud tetap menjadi persoalan serius. Occupational Fraud 2026: A Report to the Nations dari ACFE menganalisis 2.402 kasus di 143 negara dengan kerugian lebih dari US$3,4 miliar. ACFE juga memperkirakan sekitar 5% pendapatan organisasi hilang setiap tahun akibat fraud. Artinya, keberadaan audit dan pengendalian tidak otomatis membuat fraud mudah ditemukan. Persoalannya bukan hanya bagaimana bukti disembunyikan, tetapi juga bagaimana pelaku fraud dapat memengaruhi cara auditor melihat dan memahami informasi.

Auditor Ternyata Juga Dipelajari

Dalam audit, auditor mempelajari auditi. Auditor melihat transaksi, memahami proses bisnis, menilai pengendalian, bertanya kepada manajemen, dan mengumpulkan bukti. Namun, proses tersebut tidak berjalan satu arah. Pelaku fraud juga dapat mempelajari auditor, memahami pola kerja, mengetahui dokumen yang biasanya diminta, memperkirakan pertanyaan yang akan muncul, dan melihat bagaimana auditor mengambil keputusan. Andon et al. (2025) menemukan beberapa hal yang membuat pelaku fraud merasa relatif aman, antara lain program audit yang berjalan dengan pola yang stabil, perhatian auditor yang terlalu berpusat pada prosedur, anggapan bahwa auditi akan bertindak dengan itikad baik, tekanan dalam penugasan, serta keterbatasan pengalaman dan kompetensi auditor. Bagi pelaku fraud, pola seperti ini membuat proses audit lebih mudah dibaca dan diprediksi. Ketika pola pemeriksaan sudah dapat diperkirakan, ruang untuk memanfaatkannya pun menjadi lebih terbuka.

Salah satu caranya adalah membangun kepercayaan. Pelaku fraud dapat tampil kooperatif, ramah, terbuka, bahkan sangat membantu. Dokumen disiapkan dengan rapi, pertanyaan dijawab dengan cepat, dan komunikasi dibuat nyaman. Sekilas, tidak ada yang salah. Namun, hubungan yang nyaman dapat membuat auditor lebih mudah menerima penjelasan tanpa menggali kemungkinan lain secara memadai. Andon et al. (2025) dan Perri (2026) menunjukkan lima bentuk impression management: ingratiation, yaitu membangun kedekatan dan kesan menyenangkan agar auditor lebih mudah menerima dirinya; exploiting time, yaitu memanfaatkan keterbatasan waktu atau tekanan yang dihadapi auditor; bamboozling, yaitu memberikan penjelasan atau informasi yang begitu banyak dan rumit sehingga perhatian auditor dapat terpecah; supplication, yaitu menampilkan diri sebagai orang yang kurang tahu, kewalahan, atau membutuhkan bantuan sehingga memperoleh simpati; dan instrumental aggression, yaitu menggunakan kemarahan, intimidasi, tekanan, atau ancaman untuk menghentikan pertanyaan yang dianggap tidak nyaman.

Lima cara tersebut memperlihatkan bahwa pelaku fraud tidak selalu menggunakan pendekatan yang sama. Ketika bersikap ramah dan kooperatif berhasil, cara itu dapat terus dipertahankan. Namun, ketika auditor mulai masuk terlalu jauh, pendekatannya bisa berubah. Penjelasan menjadi semakin rumit, informasi penting ditunda, muncul berbagai alasan, atau sikap tiba-tiba menjadi defensif dan agresif. Karena itu, manipulasi tidak selalu hadir dalam bentuk kebohongan yang terang-terangan. Kadang justru muncul dalam bentuk perilaku yang membuat auditor merasa nyaman; di lain waktu, dalam bentuk tekanan yang membuat auditor memilih untuk tidak melanjutkan pertanyaan.

 

Ketika Semua Terlihat Baik

Manipulasi yang efektif tidak selalu terlihat seperti manipulasi. Justru sebaliknya, ia bisa terlihat seperti kerja sama yang sangat baik. Bayangkan sebuah penugasan audit ketika auditi selalu memenuhi permintaan dokumen tepat waktu, manajemen mudah ditemui, setiap pertanyaan auditor segera dijawab, penjelasannya masuk akal dan konsisten, serta data tambahan selalu tersedia. Bagi auditor, kondisi seperti ini tentu menyenangkan karena pekerjaan menjadi lebih mudah. Namun, bagaimana jika pada saat yang sama terdapat transaksi yang bermasalah? Pelaku fraud tidak perlu menghalangi auditor. Ia cukup memastikan auditor memperoleh informasi yang membuatnya nyaman, sementara perhatian diarahkan ke tempat yang relatif aman.

Misalnya, auditor sedang memeriksa kenaikan pendapatan. Manajemen menjelaskan pertumbuhan pelanggan, strategi pemasaran, dan peningkatan penjualan. Data pendukung tersedia dan penjelasannya konsisten. Auditor kemudian memperoleh keyakinan bahwa kenaikan pendapatan memang wajar. Padahal, masalah sebenarnya terletak pada waktu pengakuan pendapatan yang sengaja dipercepat. Tidak selalu ada dokumen palsu yang secara terang-terangan diberikan kepada auditor. Yang terjadi adalah perhatian auditor diarahkan pada cerita yang ingin dibangun. Di sinilah auditor perlu bertanya: Apa yang belum saya lihat? Apakah ada bukti yang bertentangan? Apakah saya sedang menguji penjelasan manajemen atau tanpa sadar sedang mencari bukti yang membenarkannya?

Skeptis Bukan Berarti Selalu Curiga

Skeptisisme profesional umumnya dipahami sebagai sikap kritis dalam memperoleh dan mengevaluasi bukti sebelum menarik kesimpulan (Nelson, 2009). Namun, perspektif pelaku fraud menunjukkan bahwa skeptisisme perlu dilihat lebih jauh. Persoalannya bukan sekadar apakah auditor bertanya, tetapi apa yang membuat auditor merasa cukup yakin terhadap jawaban yang diterimanya. Auditor dapat berhadapan dengan manajemen yang kooperatif, dokumen yang tersedia, jawaban yang cepat, dan penjelasan yang konsisten. Semua itu membantu proses audit, tetapi tidak otomatis berarti risiko fraud rendah.

Auditor tetap perlu membedakan antara percaya kepada orang dan percaya kepada bukti. Hubungan kerja yang baik dengan auditi penting, tetapi kesimpulan audit tetap harus dibangun dari bukti yang relevan, cukup, dan dapat diverifikasi. Skeptisisme bukan berarti auditor harus mencurigai setiap auditi. Skeptisisme berarti tetap bersedia mempertanyakan sesuatu meskipun semuanya terlihat baik-baik saja. Jika pihak yang diaudit berusaha memengaruhi cara auditor berpikir, maka proses penilaian auditor sendiri dapat menjadi sasaran manipulasi.

Auditor juga perlu waspada terhadap perubahan sikap ketika pertanyaan mulai menyentuh area sensitif. Auditi yang ramah bukan berarti melakukan fraud, sama seperti auditi yang defensif tidak otomatis berarti bersalah. Namun, perilaku tersebut dapat menjadi sinyal yang perlu dipertimbangkan bersama bukti dan faktor risiko lainnya. Taktik impression management bukan bukti langsung adanya fraud, melainkan sinyal yang membantu auditor menentukan apakah suatu area perlu dilihat lebih dalam.

Pertanyaan yang Sering Terlewat

Selama ini kita lebih sering bertanya, “Bagaimana auditor menemukan fraud?” Pertanyaan tersebut tentu penting. Tetapi melihat audit dari sisi pelaku fraud memunculkan pertanyaan lain: “Bagaimana pelaku fraud berusaha agar auditor tidak menemukan fraud?”

Jawabannya tidak selalu berupa pemalsuan dokumen atau transaksi fiktif. Kadang jawabannya adalah membangun kepercayaan, memanfaatkan waktu yang terbatas, membanjiri auditor dengan informasi, menampilkan diri sebagai pihak yang tidak tahu atau sedang kewalahan, atau menggunakan tekanan ketika pertanyaan mulai terasa mengancam. Fraud tidak semata-mata berkaitan dengan persoalan teknis, tetapi juga dengan perilaku manusia. Pelaku fraud tidak hanya berhadapan dengan sistem dan prosedur, tetapi juga dengan auditor yang memiliki keterbatasan waktu, perhatian, pengalaman, dan pertimbangan profesional. Andon et al. (2025) menunjukkan bahwa rutinitas audit yang berjalan stabil memang dapat membantu auditor bekerja secara lebih efisien. Namun, pola yang terlalu mudah diperkirakan juga dapat dimanfaatkan pelaku fraud untuk membaca proses pemeriksaan dan menyembunyikan kecurangan secara bertahap.

Lalu, Apa yang Sebaiknya Dilakukan Auditor?

Ada beberapa hal yang patut diperhatikan auditor. Pertama, hubungan profesional dengan auditi tidak boleh menggantikan proses verifikasi. Auditi yang kooperatif membuat pekerjaan lebih mudah, tetapi sikap kooperatif bukan bukti bahwa risiko fraud rendah. Auditor tetap perlu memeriksa dan menguji informasi yang diberikan. Kedua, auditor perlu memperhatikan bukan hanya isi informasi, tetapi juga bagaimana informasi tersebut disampaikan. Penjelasan yang terlalu rumit, upaya auditi untuk menunda atau mengulur pemberian informasi, pengakuan atas kesalahan kecil yang justru diikuti dengan tertutupnya informasi penting, atau perubahan sikap menjadi defensif dan agresif bukanlah bukti fraud. Namun, kondisi tersebut dapat menjadi sinyal bagi auditor untuk melihat kembali area yang bersangkutan dengan lebih hati-hati.

Ketiga, auditor perlu menyadari kemungkinan confirmation bias. Ketika sejak awal auditor menganggap suatu area berisiko rendah, informasi berikutnya dapat lebih mudah dipahami sebagai pembenaran atas keyakinan tersebut. Auditor perlu memberi ruang bagi kemungkinan bahwa kesimpulan awalnya keliru. Keempat, kemampuan teknis perlu berjalan bersama pemahaman mengenai perilaku manusia. Auditor perlu mengenali bias kognitif, persuasi, impression management, dan dinamika komunikasi, bukan agar menjadi lebih curiga kepada auditi, tetapi agar lebih sadar terhadap hal-hal yang dapat memengaruhi penilaiannya sendiri.

Kelima, teknologi tetap tidak dapat menggantikan professional judgment. Analisis data dapat membantu menemukan transaksi yang tidak biasa, tetapi penilaian terhadap penjelasan manajemen dan dinamika interaksi tetap membutuhkan pertimbangan auditor. Pada akhirnya, yang dibutuhkan bukan auditor yang selalu mencurigai auditi, melainkan auditor yang tidak mudah merasa terlalu nyaman, tidak mudah menerima penjelasan begitu saja, dan tidak berhenti bertanya ketika pertanyaan mulai menjadi tidak nyaman.

Kesimpulan

Melihat audit dari perspektif pelaku fraud memberikan pelajaran sederhana tetapi penting: sebagaimana auditor mempelajari auditi, pelaku fraud juga dapat mempelajari auditor. Mereka dapat memahami pola kerja auditor, memanfaatkan rutinitas audit, membangun kepercayaan, mengelola informasi, menampilkan diri sebagai pihak yang membutuhkan bantuan, bahkan menggunakan tekanan atau intimidasi untuk memengaruhi jalannya pemeriksaan.

Karena itu, ancaman terhadap kualitas audit tidak hanya berasal dari bukti yang dimanipulasi, tetapi juga dari persepsi yang sengaja dibentuk. Skeptisisme profesional bukan berarti auditor harus selalu curiga. Yang dibutuhkan adalah kemampuan untuk tetap bertanya, memeriksa, dan mempertimbangkan kemungkinan lain ketika situasi terlihat terlalu mudah, terlalu lancar, atau terlalu meyakinkan. Kepercayaan dapat membantu audit berjalan baik, tetapi kesimpulan audit tetap harus berdiri di atas bukti yang independen, relevan, dan dapat diverifikasi.

Auditor tidak perlu mencurigai setiap auditi. Yang lebih penting adalah tetap mau bertanya ketika ada sesuatu yang memang perlu dipertanyakan, dan tidak buru-buru berhenti hanya karena penjelasan yang diberikan terdengar masuk akal. Sikap skeptis bukan berarti selalu curiga, tetapi tetap sadar bahwa auditor pun bisa dipengaruhi dan menjadi sasaran strategi fraud.

References

1.
Daftar Pustaka
2.
Association of Certified Fraud Examiners. (2026). Occupational Fraud 2026: A Report to the Nations. Austin, TX: ACFE.
3.
Andon, P., Free, C., Mouritsen, J., & Tanima, F. A. (2025). Ritualistic exploitation: Fraud offender perspectives on auditing and auditors. Accounting, Auditing & Accountability Journal, 38(9), 402–429. https://doi.org/10.1108/AAAJ-11-2024-7530
4.
Nelson, M. W. (2009). A model and literature review of professional skepticism in auditing. Auditing: A Journal of Practice & Theory, 28(2), 1–34. https://doi.org/10.2308/aud.2009.28.2.1
5.
Perri, F. S. (2026). Professional skepticism: An auditor's defense against manipulation tactics. Fraud Magazine, January/February 2026.
📄 How to Cite This Article (APA)

Ismail. (2026). "Ketika Pelaku Fraud Mempelajari Auditor: Mengapa Skeptisisme Profesional Tetap Penting?". Jurnal Akademia. https://jurnalakademia.my.id