Pada Februari 2023, kantor hak cipta Amerika Serikat menolak permohonan pendaftaran sebuah komik bergambar. Penolakan itu muncul karena gambar tersebut dibuat mesin, terlepas dari mutu gambarnya. Lembaga itu menyimpulkan bahwa karya yang lahir sepenuhnya dari kecerdasan artifisial tidak memiliki unsur "kepengarangan manusia" yang dilindungi hukum. Keputusan tersebut kemudian menjadi rujukan banyak negara, termasuk dalam perdebatan yang kini bergulir di Indonesia.
Peristiwa itu terasa kecil, tetapi pertanyaannya besar: jika sebuah karya tidak lagi lahir dari tangan manusia, siapa yang sebenarnya berkarya? Dan lebih penting lagi, apa yang tersisa dari manusia ketika mesin bisa menghasilkan sesuatu yang kita sebut karya?
Batas yang Dulu Tampak Jelas
Selama beberapa abad, gagasan tentang karya hampir selalu melekat pada tubuh yang mengerjakannya. Ada tangan yang menahan kuas, ada mata yang mengamati, ada tubuh yang lelah karena berjam-jam menulis. Karya adalah hasil sekaligus jejak dari proses yang dijalani seseorang.
Hannah Arendt pernah membedakan kerja (labor) dari karya (work). Kerja adalah aktivitas yang habis begitu dilakukan: memasak, membersihkan, merawat. Sementara karya adalah aktivitas yang meninggalkan sesuatu yang bertahan melampaui hidup pelakunya, seperti bangunan, buku, lukisan, dan undang-undang. Bagi Arendt, di situlah manusia meninggalkan jejak di dunia yang akan tetap ada setelah ia pergi.
Pembedaan itu terasa masuk akal ketika alat-alat masih tumpul. Kuas membutuhkan tangan. Pena membutuhkan pikiran. Tetapi ketika mesin bisa menghasilkan gambar hanya dari satu kalimat perintah, batas antara kerja dan karya mulai kabur. Mesin tidak lelah, tidak merenung, tidak menunda karena ragu. Ia hanya mengeluarkan.
Mesin yang Tidak Pernah Ragu
Yang paling mencolok dari karya yang dihasilkan mesin adalah ketiadaan keraguan, jauh melampaui soal kualitas. Manusia menulis dengan jeda. Ia menghapus kalimat yang tidak sesuai, memilih kata yang lebih tepat, membuang paragraf yang terasa berlebihan. Ada proses menyaring yang tidak terlihat dalam hasil akhir, tetapi menentukan segalanya.
Walter Benjamin, dalam esainya yang terkenal tentang karya seni di era reproduksi mekanis, berbicara tentang "aura", yaitu kehadiran unik sebuah karya di ruang dan waktu tertentu. Reproduksi fotografis sudah mengikis sebagian aura itu, tetapi masih menyisakan sesuatu: fotografer memilih sudut, cahaya, dan momen.
Mesin generatif melangkah lebih jauh. Ia tidak memilih momen karena tidak pernah berada di suatu momen. Ia tidak menyaksikan apa pun. Ia menghasilkan gambar tentang perang tanpa pernah mencium bau asap, dan menulis puisi tentang kehilangan tanpa pernah kehilangan.
Pertanyaan itu tidak sesederhana ya atau tidak. Banyak hasil mesin berguna, bahkan indah. Persoalannya bukan pada keindahan, tetapi pada asal-usul dan tanggung jawab. Ketika sebuah karya salah, siapa yang bertanggung jawab? Ketika sebuah karya melukai, siapa yang bisa dimintai pertanggungjawaban?
Yang Hilang Ketika Prosesnya Hilang
Ada hal yang jarang diperhatikan dalam perdebatan tentang kecerdasan artifisial: yang paling banyak berubah mungkin justru proses yang dilewati manusia untuk sampai ke hasil itu, sementara hasilnya sendiri bergeser lebih sedikit.
Menulis adalah cara berpikir. Orang menulis untuk menemukan gagasan itu sendiri, sebab gagasan yang sudah selesai jarang butuh dituliskan. Kalimat pertama sering salah karena penulisnya belum tahu apa yang ingin dikatakan. Kesalahan itu bagian dari pekerjaan berpikir.
Ketika proses itu diserahkan kepada mesin, waktu memang terhemat, tetapi latihan berpikir ikut hilang. Seorang mahasiswa yang menyerahkan tugas kepada mesin mungkin mendapatkan nilai baik, tetapi ia melewatkan kesempatan untuk belajar menyusun argumen. Seorang desainer yang langsung menerima sepuluh opsi dari mesin mungkin melewatkan proses memahami mengapa satu bentuk terasa lebih tepat daripada yang lain.
Romantisme penderitaan tidak berlaku di sini. Tidak ada yang berharga dari lembur tanpa bayaran atau proses kreatif yang menyiksa. Tetapi ada perbedaan antara kerja keras yang bisa dihindari dan kerja berpikir yang tidak bisa dilewati tanpa konsekuensi.
Hukum yang Selalu Terlambat
Di Indonesia, Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dibangun di atas asumsi bahwa pencipta adalah orang atau badan hukum. Undang-undang itu tidak membayangkan mesin sebagai pencipta. Ketika karya dihasilkan mesin, tidak jelas siapa yang berhak atas hak moral dan hak ekonomi: pengguna yang mengetik perintah, perusahaan yang memiliki model, atau pengembang data pelatihan yang karyanya dipakai tanpa izin.
Persoalan menjadi lebih rumit karena model generatif dilatih dengan miliaran karya manusia. Di Amerika Serikat, beberapa penulis dan seniman menggugat perusahaan pengembang kecerdasan artifisial dengan tuduhan penggunaan karya mereka tanpa izin. Di sisi lain, sejumlah perusahaan mulai mengganti staf penulis dan ilustrator dengan sistem otomatis.
Hukum selalu bergerak lebih lambat daripada teknologi. Namun dalam kasus ini, keterlambatan itu melampaui soal regulasi. Yang tertunda adalah kesepakatan tentang nilai: apakah kita menganggap proses manusiawi sebagai bagian dari nilai sebuah karya, atau hanya hasil akhirnya yang penting?
Jika hanya hasil yang penting, maka tidak ada alasan untuk mempertahankan perlindungan bagi pencipta manusia. Jika proses juga bernilai, maka hukum harus mampu membedakan keduanya, bahkan ketika hasilnya tampak serupa.
Yang Tidak Bisa Direproduksi
Ada satu hal yang luput dalam hampir semua perdebatan tentang kecerdasan artifisial: mesin belajar dari masa lalu, sementara karya manusia selalu berhadapan dengan masa depan. Sebuah model dilatih dengan jutaan teks yang sudah ditulis, lalu memprediksi kata berikutnya berdasarkan pola yang pernah ada. Ia sangat baik dalam mengulang apa yang sudah dikenal, tetapi tidak pernah benar-benar menghadapi hal yang belum pernah terjadi.
Seorang penulis yang menyaksikan sesuatu yang baru, misalnya perubahan sosial di kampungnya, kematian seseorang yang dicintai, kegagalan yang tidak terduga, lalu menulis dari pengalaman yang belum pernah ada sebelumnya. Di situlah karya mendapatkan ketajamannya. Ketajaman itu datang dari sesuatu yang belum pernah masuk ke dalam data mana pun, terlepas dari indah atau tidaknya bahasa.
Argumen ini tidak mengklaim bahwa manusia selalu lebih baik. Mesin jauh lebih cepat, lebih murah, dan dalam banyak tugas teknis lebih akurat. Tetapi ada perbedaan mendasar antara menghasilkan teks yang meyakinkan dan memiliki sesuatu untuk dikatakan. Yang pertama bisa dipelajari dari data. Yang kedua hanya lahir dari kehidupan yang dijalani.
Mungkin inilah yang perlu dipertahankan: posisi manusia sebagai pihak yang mengalami, lebih daripada superioritasnya atas mesin. Selama manusia masih mengalami hal-hal yang belum pernah tercatat, karya manusia masih punya alasan untuk ada.
Pertanyaan yang Tidak Bisa Dihindari
Kecerdasan artifisial tidak akan berhenti. Ia akan semakin murah, semakin cepat, dan semakin sulit dibedakan dari karya manusia. Menolaknya secara total tidak realistis, sekaligus tidak jujur terhadap manfaatnya.
Namun ada pertanyaan yang perlu dijawab sebelum kita terlalu jauh melangkah: apa yang ingin kita pertahankan dari manusia?
Dalam arti praktis tentang kemampuan-kemampuan yang ingin kita rawat, bukan dalam arti romantis tentang keunggulan manusia atas mesin. Kemampuan menimbang, kemampuan ragu, kemampuan mempertanggungjawabkan pilihan sendiri, semuanya adalah keterampilan yang hanya tumbuh melalui latihan. Jika latihan itu diambil alih seluruhnya, keterampilannya akan layu.
Ada ironi dalam cara kita membicarakan mesin. Kita mengagumi kemampuannya meniru manusia, tetapi sering lupa bahwa yang kita kagumi adalah kemampuan manusia yang terekam dalam data. Mesin tidak menciptakan selera. Ia mempelajari selera yang sudah ada, lalu mengulanginya dalam skala besar.
Karena itu, pertanyaan tentang etika karya yang dihasilkan mesin sebenarnya pertanyaan tentang manusia, dengan mesin sebagai pemicunya. Ia pertanyaan tentang manusia: seberapa besar kita bersedia menyerahkan kemampuan berpikir kepada alat yang tidak pernah berpikir, dan apa yang akan kita sesali ketika kemampuan itu sudah tidak lagi terlatih.
Arendt menulis bahwa karya adalah cara manusia meninggalkan sesuatu yang bertahan. Jika karya bisa diproduksi tanpa manusia, maka yang tersisa adalah pertanyaan tentang apa yang masih bisa kita tinggalkan, di samping soal siapa pemiliknya.
Redaksi JA. (2026). "Ketika Mesin Ikut Menulis: Pertanyaan Etis tentang Karya yang Tidak Lagi Manusiawi". Jurnal Akademia. https://jurnalakademia.my.id
