Artikel ini mengkaji perbedaan ideologi yang sangat mendasar pada faksi perlawanan yang ada di Gaza. Faksi yang sering diketahui yaitu Hamas sebagai perwujudan dari faksi Islam yang memiliki popularitas yang sangat tinggi, akan tetapi juga terdapat Hizbut tahrir, yang ideologi sama-sama Islam. Di sisi lain terdapat pula faksi perlawanan yang memiliki ideologi yang berbeda seperti Fatah yang memiliki ideologi nasionalis, dan PFLP (Front Populer untuk Pembebasan Palestina) yang memiliki ideologi komunis. Akan tetapi faksi-faksi ini memiliki kesatuan visi yaitu anti terhadap penjajahan. Dengan hal ini perlawanan terhadap Israel bukan sebatas pada perebutan sebuah teritorial melainkan sebuah kewajiban agama, dimana hal ini sudah menjadi sebuah pergerakan yang tersistematis sejak runtuhnya khilafah Utsmani, maupun sikap anti imperialisme yang sudah mengakar sejak abad ke 20.
Pasca runtuhnya kekhalifahan Utsmani pada tahun 1924 muncullah gerakan untuk mengembalikan kekhalifahan,di bumi Mesir sedang lahir pula gerakan Ikhwanul muslimin yang bergerak di bidang sosial maupun politik dikomandoi oleh Hasan Al banna. di bumi Yerusalem terdapat gerakan Hizbut tahrir yang didirikan oleh syekh Taqiyuddin An-nabhani. Pada saat itu palestina masih dibawah pendudukan Inggris. Gerakan perlawanan di Palestina masih bersifat sporadis, dan komandan yang terkenal yaitu syekh Izzuddin Al Qassam.
Setelah munculnya intifada pertama gerakan perlawanan mulai terstruktur dibawah komando syekh Ahmad Yasin berdirilah gerakan Hamas yang merupakan kepanjangan dari Ikhwanul muslimin di sisi lain dalam mewarnai pergerakan perlawanan terdapat pergerakan perlawanan yang memiliki ideologi yang berbeda. Fatah yang merupakan sebuah gerakan perlawanan yang memiliki ideologi nasionalis. Fatah didirikan pada tahun 1959, dan dipimpin oleh yasser Arafat Adapun PFLP (Front Populer untuk Pembebasan Palestina), memiliki ideologi komunis yang didirikan oleh George Habash.
Walaupun dengan adanya perbedaan faksi yang ada di Palestina tetapi pergerakan perlawanan tetap satu visi dalam menyikapi penjajahan yaitu melakukan gerakan gerakan perlawanan terhadap Penjajahan.
Perbedaan Ideologi:
Spektrum Pergerakan Islam
Ikhwanul Muslimin
Ikhwanul Muslimin: Ikhwanul muslimin disebut juga sebagai Mother Organization, yang melahirkan gerakan islamis lainnya, jika di Indonesia kita bisa melihat gerakan Tarbiyah yang terinspirasi dari gerakan Ikhwanul muslimin. Hamas pun demikian yang merupakan kepanjangan dari Ikhwanul Muslimin. Jika kita melihat gerakan dakwah yang diusung oleh Hamas menggunakan metode gradualisme dari bawah ke atas dimana Hamas lebih mengutamakan proses Islamisasi dengan menggunakan pendidikan dan layanan sosial, serta Hamas terlibat dalam sistem politik demokrasi. Dengan sistem yang ada yaitu dengan layanan sosial serta terlibat dalam sistem demokrasi Hamas menggunakan sebagai bentuk perlawanan. Pola Hamas ini sempat berhasil dimana Hamas pernah memenangkan pemilu pada 25 Januari 2006, dengan perolehan 74 kursi parlemen dari total 132 kursi. Pergerakan Hamas ternyata menunjukkan hasil yang cukup memuaskan dimana kemenangan ini menunjukkan perjuangan mereka secara gradual sangat didukung dan dapat dirasakan masyarakat.
Hizbut Tahrir
Hizbut Tahrir didirikan di Yerusalem 1953 didirikan oleh syekh Taqiyuddin An-nabhani. Gerakan ini memiliki corak yang berbeda dimana gerakan ini menolak sistem al-masyrutiyah ( Demokrasi secara mutlak ). HT berfokus pada politik internasional dimana untuk menyerukan pan-Islamisme, untuk mengembalikan Khilafah Islamiyyah. Serta menolak sistem nasionalisasi negara muslim yang merdeka akan tetapi terpecah menjadi 53 negara.
Spektrum Gerakan nasionalis
Dalam gerakan perlawanan di Palestina terdapat juga ideologi nasionalis, dan perwujudan ini diwakili oleh Fatah. Faksi nasionalis cenderung lebih terbuka dalam melakukan diplomasi, walau tujuan mereka tetap sama yaitu membebaskan Palestina dari penjajahan.
Fatah secara resmi didirikan pada tahun 1959 dan diakui sebagai partai politik terbesar di Palestina yang memperjuangkan kemerdekaan negara Palestina. Fatah pertama kali dipimpin oleh Yasser Arafat, Arafat memimpin fatah sampai tahun 2004. Tujuan awal didirikannya fatah yaitu melakukan perlawanan terhadap Israel melalui strategi gerilya. Pasca wafatnya yasser arafat Fatah mulai meninggalkan perlawanan. Sebaliknya Fatah mengadopsi ‘Tanah untuk perdamaian”, Fatah memiliki posisi yang sangat strategis sebagai partai dominan di dalam PLO dalam negosiasi dengan Israel yang dimediasi dengan Amerika serikat.
Fatah menghadapi tantangan terbesar dari rival politiknya yaitu Hamas.Fatah mengalami kekalahan besar pada pemilu tahun 2007. Fatah terusir dari Jalur Gaza, akan tetapi Fatah masih dapat mempertahankan tepi barat, dibawah kendali Mahmoed Abbas. Organisasi ini memiliki ciri sebagai nasionalis sekuler. Memiliki andil besar dalam politik maupun militer, sepanjang berdirinya.
Spektrum Gerakan komunis
Harus diketahui bahwa terdapat pula di dalam Palestina khususnya di jalur Gaza faksi komunis. Dapat diketahui ideologi komunisme dan sosialisme diidentifikasikan sebagai ideologi yang condong pada kaum proletar. Ideologi ini sangat ditentang terutama dari HT ( Hizbut Tahrir ). Karena gerakan ini dinilai terlalu menggantungkan segalanya pada basis materi.
PFLP didirikan pada tahun 1967, didirikan oleh George Habash. PFLP merupakan penggabungan dari kelompok militan Palestina. Dengan adanya konflik internal dalam tubuh organisasi ini, maka melahirkan faksi-faksi independen, dan yang paling terkenal komando umum PFLP ( PFLP GC). Didirikan oleh Ahmad Jibril. Masing-masing faksi memiliki dalam aktivitas gerilya melawan Israel, dan barat. PFLP sering melakukan operasi yang sangat fenomenal, yaitu pembajakan pesawat komersial pada tahun 1960 & 1970. PFLP menentang adanya perdamaian dengan Israel yang dimulai pada tahun 1990 dan mengganti negara itu dengan negara sekuler dan demokratis. Sikap PFLP jelas menunjukkan sikap yang sangat anti terhadap barat dan kapitalis. Ḥabash pensiun sebagai kepala organisasi pada tahun 2000; Penerusnya, Abu ali mustofa , dibunuh oleh pasukan Israel di kantor PFLP di Tepi Barat pada tahun 2001. Pemimpin berikutnya, Aḥmad Saʿadāt, dipenjara pada tahun 2002. Meskipun dibayangi oleh Fatah dan Hamas di tengah kebangkitan otoritas Palestina dan pengambilalihan jalur Gaza oleh Hamas, PFLP tetap menjadi gerakan sayap kiri paling aktif dalam masyarakat Palestina hingga abad ke-21.
Konflik Hamas & Fatah
Pada tahun 2006 Hamas secara mengejutkan memenangkan pemilu, posisi ini secara langsung menantang Fatah dalam parlemen. Fatah selama ini menjadi penguasa dalam parlemen, akan tetapi setelah kemenangan Hamas ini, mengusik kursi kekuasaan fatah, sekaligus semakin menekan keberadaan eksistensi Israel.
Hamas memiliki kendali atas kabinet, akan tetapi aparat keamanan dikendalikan oleh Fatah. Baku tembak antara Fatah dan Hamas sering terjadi utamanya di wilayah Gaza, sebagai basis utama Hamas. Pada bulan Februari 2007 konflik ini segera ditengahi oleh Saudi konferensi perdamaian di Mekkah, yang menghasilkan pemerintahan persatuan antara pihak yang bersaing.
Perdamaian berjalan singkat pada bulan Mei 2007, baku tembak terjadi kembali antara Hamas dan Fatah.Dalam kurun waktu 5 hari dalam periode bulan Juni Hamas berhasil menguasai Jalur Gaza. Dengan adanya hal ini memunculkan 2 otoritas yang terbagi menjadi 2, Fatah di Tepi Barat, dan Hamas di jalur Gaza.
Titik Konvergensi: dalam melakukan perlawanan terhadap Israel
Walau pergerakan ini memiliki banyak perbedaan akan tetapi semua pergerakan ini memiliki beberapa titik temu diantaranya:
Anti penjajahan: Semua faksi yang ada di Palestina sepakat untuk melakukan perlawanan terhadap genosida yang dilakukan oleh Israel.
Kegagalan Internasional: Seluruh faksi yang ada di Palestina memiliki pemahaman yang satu bahwa dunia internasional gagal dalam mengakomodir kebutuhan rakyat Palestina. Dalam memberikan perdamaian dan kemerdekaan kepada bangsa Palestina.
Pan Islamisme: Untuk faksi Islam walau memiliki perbedaan metode mereka tetap memiliki satu tujuan yaitu mempersatukan dunia Islam. Ini yang mendasari persatuan faksi Islam.
Di sisi lain setelah meletusnya operasi Thufanul Aqsa pada tanggal 7 Oktober, yang selama ini menjadi rival Hamas yaitu Fatah, memberikan dukungan kepada Hamas. Bahkan memberikan dukungan material maupun personil. Pada Juli 2024 perwakilan Hamas dan Fatah bertemu di Tiongkok untuk menandatangani kesepakatan bahwa kedua organisasi yang selama ini menjadi rival kuat untuk bersatu membentuk satu pemerintahan pasca berakhirnya konflik dengan Israel.
Dalam perkembangannya faksi perjuangan yang ada di jalur Gaza memiliki satu tujuan yang sama yaitu kemerdekaan Palestina. Sehingga perbedaan ideologi yang ada dapat dipersatukan. Pada Jumat 24 Oktober 2025, faksi-faksi yang berada di Palestina mengumumkan sebuah kesepakatan untuk membuat komite sementara yang independen untuk membangun Gaza pasca konflik. Hal ini diungkapkan melalui pernyataan sikap bersama yang dikutip dari Arab News, setelah menggelar pembicaraan selama dua hari yang dimediasi oleh Mesir di Kairo. Komite ini akan diisi oleh kalangan teknokrat non partisipan yang akan bertugas untuk melayani kebutuhan yang bersifat esensial dan rutin. Komite ini akan beroperasi dalam kerangka kerja akuntabilitas nasional. Hal ini sejalan dengan pendapat Usamah Hamdan ( juru bicara Hamas) dalam wawancara eksklusif di kanal YouTube Sabili: "Hamas mempersilahkan Gaza pasca perang dipimpin oleh kalangan teknokrat yang bukan bagian dari Hamas maupun faksi lainnya, asalkan mereka terbukti berintegritas, cinta tanah air, serta memiliki kapasitas."
Faksi-faksi ini juga menekankan bahwa tahanan Palestina yang berada dalam penjara Israel menjadi suatu hal prioritas utama. Sampai kebebasan terhadap tahanan Palestina mendapat jaminan. Selain itu faksi-faksi ini berkomitmen untuk melakukan pembahasan yang jauh lebih luas untuk mempersatukan upaya politik yang ada. Serta mewujudkan organisasi pembebasan Palestina agar dapat mewakili seluruh komponen masyarakat yang ada.
Perbedaan strategi namun satu visi
Faksi Islam: Hamas dan HT ( Hizbut Tahrir ), memiliki pola gerakan yang cenderung berbeda Hamas menggunakan metode yang gradualisme dari bawah ke atas , sedangkan HT menggunakan metode lebih radikal yaitu dari atas ke bawah.
Faksi nasionalis : Cenderung lebih terbuka dan lebih mengutamakan jalur diplomasi.
Faksi komunis: PFLP justru dalam melakukan pergerakan melawan Israel cenderung sama sikapnya dengan faksi Islam, karena menganggap hal ini adalah sebuah bentuk dari imperialisme.
Dapat disimpulkan dinamika eskalasi politik yang terjadi di Gaza sangat rumit. Perbedaan Ideologi sekaligus pola perjuangan yang dimiliki berbagai faksi di Palestina memiliki banyak perbedaan. Bahkan sampai terjadi perang saudara antara Hamas dan Fatah, di tengah terjadinya konflik dengan Israel pada tahun 2007. Sebagai masyarakat Indonesia hendaklah memahami bahwa kondisi perpolitikan di Palestina memiliki pola yang sangat dinamis dan kita tidak seharusnya menggunakan kacamata kuda dalam melihat perjuangan bangsa Palestina. Walaupun dengan kondisi internal bangsa Palestina yang rumit. Kita sebagai bangsa Indonesia hendaklah fokus pada narasi perjuangan kemerdekaan Palestina. Kita tidak perlu ikut campur dalam urusan mereka. Bagaimanapun dari dinamika politik bangsa Palestina yang ada, semua pergerakan memiliki satu cita-cita yaitu kemerdekaan Palestina.
References
1. Zakariyya, F. (2005). Myth and Reality in the Contemporary Islamist Movement. London: Pluto Press. (Menjelaskan Ikhwanul Muslimin sebagai Mother Organization bagi faksi-faksi di Palestina)
2. Machmudi, Y. (2008). Islamising Indonesia: the Rise of Jemaah Tarbiyah and the Prosperous Justice Party (PKS). Canberra: ANU E-Press
3. An-Nabhani, T. (2007). Mafahim Hizbut Tahrir. Jakarta: HTI Press
4. BBC News. "Profile: Popular Front for the Liberation of Palestine (PFLP)." BBC News, 18 Nov. 2014,
5. "Fatah." EBSCO Research Starters: Military History and Science, EBSCO Information Services, 2023,
6. Wardoyo, Broto. "Pemerintah Hamas dan Prospek Perdamaian." Global: Jurnal Politik Internasional, vol. 8, no. 2, 2006, article 6. UI Scholars Hub, doi:10.7454/global.v8i2.254.
7. Basyar, Hamdan. "Hubungan Israel-Palestina dan Masa Depan Perdamaian Timur Tengah Pasca-Yasser Arafat." Global: Jurnal Politik Internasional, vol. 7, no. 2, 2005, article 4. UI Scholars Hub, doi:10.7454/global.v7i2.239.
8. Wibisono, Ali. "Kebijakan Okupasi Israel dan Kegagalan Proses Perdamaian Israel-Palestina." Global: Jurnal Politik Internasional, vol. 7, no. 2, 2005, article 6. UI Scholars Hub, doi:10.7454/global.v7i2.241.
9. Shaleh, Muhsin Muhammad. Palestina: Sejarah, Perkembangan, dan Konspirasi. Suntingan oleh Harlis Kurniawan, Gema Insani, 2002.