Bahasa daerah tidak mati pada hari ketika penutur terakhirnya berhenti berbicara. Jauh sebelum itu, sebuah bahasa biasanya telah kehilangan banyak tempat untuk hidup.

Ia mungkin masih terdengar dalam upacara, tetapi tidak lagi dipakai untuk bercanda. Namanya tercantum dalam buku pelajaran, tetapi murid tidak menggunakannya ketika bermain. Kosakatanya didokumentasikan oleh peneliti, tetapi tidak cukup sering muncul dalam lagu, cerita anak, layanan publik, percakapan digital, atau perdebatan sehari-hari. Bahasa tersebut masih ada, tetapi ruang geraknya terus menyempit.

Karena itu, kepunahan bahasa jarang berawal dari satu larangan yang dramatis. Ia berlangsung melalui keputusan-keputusan kecil yang secara terpisah terlihat masuk akal. Orang tua memilih bahasa yang dianggap lebih membantu pendidikan anak. Sekolah menggunakan bahasa yang dapat dipahami seluruh murid. Anak muda menyesuaikan diri dengan bahasa pergaulan yang lebih luas. Media memilih bahasa dengan pasar terbesar. Teknologi dikembangkan untuk bahasa yang memiliki cukup banyak data dan pengguna.

Tidak satu pun keputusan itu harus lahir dari niat menghapus bahasa daerah. Namun, ketika semuanya mengarah ke tempat yang sama, satu generasi dapat tumbuh dengan kemampuan memahami bahasa leluhurnya tanpa mampu menjawab dalam bahasa tersebut. Generasi berikutnya mungkin hanya mengenali beberapa kata.

Indonesia memiliki lebih dari 700 bahasa daerah yang telah dipetakan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Keragaman itu kerap disebut sebagai kekayaan nasional, tetapi kata “kekayaan” dapat menipu bila membuat kita merasa semuanya tersimpan dengan aman. Kondisi setiap bahasa sangat berbeda. Ada bahasa dengan jutaan penutur dan ruang penggunaan yang luas. Ada pula bahasa yang penuturnya tinggal sedikit, berusia lanjut, dan tersebar di wilayah yang tidak selalu mudah dijangkau.

Badan Bahasa membedakan kondisi bahasa dari kategori aman hingga punah berdasarkan daya hidupnya. Penilaian semacam itu tidak cukup melihat jumlah penutur. Yang juga menentukan adalah usia penutur, penggunaan bahasa oleh anak-anak, ranah pemakaian, sikap masyarakat, ketersediaan bahan, serta kemampuan bahasa beradaptasi dengan ruang baru. Bahasa dengan jumlah penutur yang tampak besar pun dapat menghadapi masalah jika semakin jarang diwariskan kepada anak.

Di sinilah pembicaraan tentang revitalisasi perlu dimulai: bukan dari keinginan mempertahankan semua hal persis seperti masa lalu, melainkan dari pertanyaan apakah generasi berikutnya masih mempunyai kesempatan nyata untuk menggunakan bahasa tersebut.

Program Revitalisasi Bahasa Daerah yang dijalankan pemerintah memakai sejumlah model sesuai keadaan bahasa dan komunitasnya. Pendekatannya mencakup pelatihan guru atau pegiat bahasa, pembelajaran bagi siswa, penyusunan bahan, dan festival sebagai ruang apresiasi. Kebijakan yang membedakan model revitalisasi merupakan pengakuan penting bahwa satu resep nasional tidak mungkin cocok untuk ratusan bahasa dengan keadaan berbeda.

Namun, sebuah festival mudah terlihat lebih berhasil daripada perubahan kebiasaan. Anak dapat menghafalkan pidato, membawakan cerita, atau menyanyikan lagu dalam bahasa daerah untuk satu acara. Penampilan itu bernilai, tetapi belum menjawab apakah bahasa tersebut digunakan setelah panggung dibongkar. Revitalisasi baru memperoleh daya jika kemampuan yang dipelajari masuk ke percakapan yang tidak disiapkan: bertanya, berselisih, melucu, mengeluh, memberi petunjuk, dan menceritakan pengalaman baru.

Bahasa hidup bukan hanya karena diajarkan. Bahasa hidup karena dibutuhkan.

Kebutuhan itu tidak selalu bersifat ekonomi. Orang menggunakan bahasa untuk membangun kedekatan, menandai rasa hormat, menyampaikan humor, dan mengungkapkan pengalaman yang terasa canggung dalam bahasa lain. Akan tetapi, kebutuhan sosial semacam itu dapat melemah ketika bahasa daerah terus ditempatkan sebagai bahasa masa lalu, sementara pendidikan, pekerjaan, teknologi, dan kreativitas dianggap hanya milik bahasa yang lebih dominan.

Akibatnya, seorang penutur muda dapat menguasai bahasa daerah tetapi enggan memakainya. Persoalannya bukan kemampuan, melainkan gengsi. Jika logat menjadi bahan ejekan atau bahasa daerah diasosiasikan dengan keterbelakangan, perpindahan bahasa menawarkan cara untuk menghindari penilaian sosial. Revitalisasi karena itu harus menangani sikap, bukan hanya tata bahasa dan kosakata.

Sekolah mempunyai peran penting, tetapi tidak dapat memikul seluruh beban. Muatan lokal dapat menyediakan ruang belajar yang teratur, terutama ketika guru mempunyai kemampuan dan bahan yang sesuai usia. Meski demikian, kelas dua jam setiap minggu akan sulit menandingi lingkungan yang selama sisa waktu memberi pesan bahwa bahasa itu tidak diperlukan.

Pembelajaran juga tidak boleh mempermalukan murid yang tidak lagi fasih. Anak mewarisi keadaan bahasa yang dibentuk oleh orang dewasa dan institusi sebelum mereka. Menjadikan ketidakfasihan sebagai bukti kurangnya cinta budaya hanya akan menambah jarak. Kelas seharusnya menjadi tempat mencoba tanpa takut salah, bukan ujian tentang siapa yang paling asli.

Kerumitan lain muncul karena bahasa daerah sering mempunyai banyak dialek. Upaya membuat buku ajar membutuhkan pilihan ejaan, kosakata, dan variasi bahasa. Standardisasi dapat membantu pendidikan dan penerbitan, tetapi juga dapat menyingkirkan bentuk tutur yang tidak dipilih. Jika satu variasi dinobatkan sebagai bahasa yang paling benar, penutur dialek lain mungkin merasa bahasa di sekolah bukan sepenuhnya milik mereka.

Karena itu, bahan belajar perlu menjelaskan variasi alih-alih menyembunyikannya. Tujuan revitalisasi bukan menghasilkan keseragaman, melainkan memperluas keberanian dan kemampuan menggunakan bahasa.

Ruang digital membuka peluang sekaligus memperlihatkan ketimpangan. Lagu, film pendek, komik, kamus daring, permainan, dan podcast dapat membawa bahasa daerah ke situasi yang dekat dengan generasi muda. Akan tetapi, kehadiran di internet tidak cukup diukur dari beberapa konten seremonial. Bahasa memerlukan papan ketik yang mendukung aksaranya, korpus yang dapat digunakan, informasi yang mudah dicari, serta ruang bagi pencipta untuk menghasilkan karya secara berkelanjutan.

Perkembangan kecerdasan artifisial menambah urgensi tersebut. Teknologi pengenal suara, penerjemahan, dan pembuat teks bergantung pada ketersediaan data. Bahasa yang mempunyai sedikit bahan digital berisiko semakin tidak terlihat dalam perangkat yang kelak digunakan untuk belajar, bekerja, dan mengakses layanan. Dokumentasi bahasa kini bukan hanya pekerjaan menyimpan masa lalu, tetapi juga menentukan apakah bahasa mempunyai tempat dalam teknologi masa depan.

Meski demikian, pengumpulan data tidak boleh mengulang pola pengambilan pengetahuan dari komunitas. Rekaman suara, cerita, kamus, dan pengetahuan lokal perlu dikumpulkan dengan persetujuan yang jelas. Penutur harus mengetahui bagaimana data digunakan, siapa yang memperoleh akses, dan apakah materi boleh dipakai untuk kepentingan komersial. Salinan hasil dokumentasi juga harus kembali kepada komunitas dalam bentuk yang dapat mereka gunakan, bukan hanya tersimpan di lembaga yang jauh.

Ukuran keberhasilan revitalisasi akhirnya perlu dibuat lebih dekat dengan kehidupan. Bukan semata jumlah peserta pelatihan, lomba, atau buku yang dicetak, melainkan apakah lebih banyak anak memahami percakapan; apakah remaja berani berbicara tanpa takut ditertawakan; apakah guru memiliki bahan yang benar-benar digunakan; apakah karya baru terus muncul; dan apakah bahasa memperoleh kembali fungsi di luar acara resmi.

Setiap komunitas dapat memilih tujuan berbeda. Bahasa dengan banyak penutur mungkin ingin memperluas penggunaannya dalam pendidikan, layanan publik, dan media. Bahasa yang transmisinya mulai terputus dapat memusatkan upaya pada kelas imersi dan bahan untuk anak. Dalam keadaan yang sangat kritis, dokumentasi mendalam serta pembentukan penutur baru mungkin menjadi prioritas. Tidak semua program harus mempunyai bentuk atau target yang sama.

Negara dapat menyediakan dana, pelatihan, teknologi, dan perlindungan. Sekolah dapat membuka ruang. Media dapat memperluas jangkauan. Perguruan tinggi dapat membantu penelitian dan dokumentasi. Namun, keputusan tentang arah bahasa harus tetap melibatkan penuturnya. Revitalisasi yang hanya datang sebagai proyek dari luar mudah berhenti ketika anggaran atau pejabat berganti.

Bahasa daerah tidak perlu dipertentangkan dengan bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia memungkinkan komunikasi lintas daerah dan menjadi bagian penting dari kehidupan nasional. Penguasaan satu bahasa tidak secara otomatis menuntut hilangnya bahasa lain. Persoalan muncul ketika masyarakat dipaksa memilih karena hanya salah satu bahasa yang diberi ruang, prestise, dan dukungan.

Pada akhirnya, bahasa tidak dapat diselamatkan hanya dengan meminta generasi muda mencintainya. Cinta memerlukan tempat untuk diwujudkan. Sebuah bahasa membutuhkan lawan bicara, bahan bacaan, musik, humor, ruang belajar, karya baru, dan kebebasan untuk berkembang.

Bahasa daerah memang tidak mati dalam sehari. Itu juga berarti kemundurannya bukan sesuatu yang tidak dapat dihentikan. Ribuan keputusan kecil telah mempersempit ruang hidupnya. Ribuan keputusan kecil yang berbeda dapat membukanya kembali.

References

1. https://petabahasa.kemdikbud.go.id/

2. https://badanbahasa.kemendikdasmen.go.id/

3. https://repositori.kemdikbud.go.id/32868/1/risalah_nomor_7_rev.pdf

4. https://www.unesco.org/en/decades/indigenous-languages

5. https://en.wal.unesco.org/