CultureOpinion

Menemukan Kembali Makna Kebudayaan di Era Algoritma

R

Redaksi JA

·8 reads

Setiap hari, rata-rata orang Indonesia menghabiskan lebih dari tiga jam di media sosial. Dalam rentang waktu itu, algoritma diam-diam membentuk selera, preferensi, dan bahkan identitas kultural kita.

Yang muncul ke permukaan bukanlah yang paling bermakna, melainkan yang paling engagement-worthy. Konten viral seringkali tidak lebih dari sensasi sesaat yang terlupakan dalam 24 jam.

Ini bukan berarti teknologi adalah musuh kebudayaan. Platform digital telah memungkinkan seniman dari daerah terpencil menemukan audiens global. Yang menjadi masalah adalah ketika logika algoritma menjadi satu-satunya kurator kebudayaan kita.

Yang kita butuhkan adalah ruang-ruang alternatif: festival seni independen, penerbitan kecil, komunitas sastra lokal. Kebudayaan yang sehat membutuhkan ekosistem yang beragam, bukan monopoli algoritma.

Back to Home